Rabu, 10 November 2010

KEBAKTIAN UMUM
(Model A)

A. Panggilan Beribadah
Leader Song atau Organ menyanyikan :
MULIA SEMBAH RAJA MULIA (MAJESTY)
Mulia, sembah Raja Mulia,Bagi Yesus Puji hormat dan kuasa
Mulia, agung K’rajaanNya, dari sorga datang untuk s’gnap umat Nya
Dipuji, ditinggikan Nama-Nya Yesus, hormatlah, Muliakanlah Yesus Raja, Oh Mulia, sembah Raja Mulia. Dia t’lah mati dibangkitkan jadi Raja.
(Jemaat berdiri)
L : “Marilah saudara-saudara, semua yang letih lesu dan berbeban berat, sujudlah di hadapan Tuhan dan siapkanlah hati pikiranmu menyambut belaian kasih Yesus”
J : Menyanyikan Kidung Jemaat No. 33.3
Kau panggil diriku, supaya kukenal, iman, yang harapan yang teguh dan kasihMu kekal. Aku datanglah, Tuhan padamu!
Dalam darahMu kudus, sucikan diriku”

B. Ibadah: (L=Liturgis, J=Jemaat)
1. Votum
L : Pertolongan kita adalah dalam Nama Allah yang telah menjadikan langit
dan bumi. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, pengasihan Allah Bapa
dan persekutuan dengan Roh Kudus menyertai kita sekalian, Amin.
L+J : “Ya Yesus Kristus Tuhan kami; Lihat dan datanglah kepada kami yang
bersekutu di sini. Tuntunlah ibadah ini agar hati dan jiwa kami
merasakan belaian kasihMu. Amin.
2. Bernyanyi :

3. Responsoria :
L : “Tuhan aku cinta rumah kediamanMu dan pada tempat kemuliaanMu
bersemayam”
J : Di tempat ini kami mengharap agar FirmanMu nyaring terdengar;
penyejuk bagi hati resah yang tak tentu arah.
L : Saatnya akan tiba dan sudah tiba sekarang, penyembah –penyembah
benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran. Bumi
berkabung dan lesu, langit dan bumi merana bersama.
J : Ajarlah kami mengartikan FirmanMu dengan benar agar kami mampu tegar saat bumi menggelapar. Jadikanlah ibadah hari ini sarana menemukan kembali semangat yang hampir lesu. Biarlah suka duka kami tertuju kepadaMu.
P : Tuhan adalah sumber kekuatan pada umat yang berseru kepadaNya.Tuhan kiranya memberkati umatNya sehingga kebahagiaan kita akan terus berlimpah seperti gelombang lautan yang tak pernah berhenti.
(Jemaat duduk)



4. Pembacaan Nats: (dipilih dari kitab Mazmur)

5. Bernyanyi :
6. Pengakuan dosa dan berita anugerah:
L : Bapa didalam Yesus, hari ini kami datang dengan beban dosa yang
beraneka Warna.
J : Tolonglah kami, agar kami tidak mengulangi kesalahan yang sama
sepanjang masa.
L : Sering kali kami terperangkap dalam kebiasaan buruk, kami terlanjur
adaptasi dan mencintainya.
J : Kami sering buta terhadap kelemahan dan kesalahan kami, tetapi mata
kami begitu jeli menemukan kelemahan orang lain.
L : Ampunilah kami karena kecenderungan menikmati pekerjaan yang
menyusahkan orang lain
J : Mampukanlah kami, agar kehadiran kami dapat membuat hal-hal yang
menakutkan menjadi menyenangkan, yang sulit dapat menjadi mudah.
L : Marilah kita menerima janji pengampunan dosa-dosa kita: “Demi Aku
yang hidup, demikianlah firman Allah,aku tidak berkenan kepada
kematian orang fasik, melainkan, Aku berkenan kepada pertobatan
orang fasik itu dari kelakuanya supaya ia hidup. Kemuliaan bagi Allah
di tempat yang Mahatinggi.
L+J : Amin. (duduk).

7. Bernyanyi :

8. Pembacaan Nats Epistel

9. Bernyanyi :

10. Pengakuan iman rasuli:
L : Marilah kita bersama-sama mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli kita:
L+J : Aku percaya kepada Allah Bapa…
Aku percaya kepada Yesus Kristus…
Aku percaya kepada Roh Kudus…, Amin (Jemaat duduk)

11. Bernyanyi : ( Persembahan I dan II )

12. Kotbah : (Teks dibacakan secara Responsoria)
(Nyanyian sebelum khotbah:FirmanMu menjadi T’rang bagi hidup kami,Oleh kasihMu Tuhan Allah Bapa kami.FirmanMu, firmanMu b,rikan pada kami agar menjadi Berkat bagi hidup kami.)
Nyanyian Sesudah khotbah: FirmanMu berkatilah, kekal dalam hatiku,
Teguhkanlah imanku Yesus juruslamatku,Yang men’rima firmanmu diselamatkan olehMu. Doa pujianku t’rimalah ya Tuhanku.)

13. Bernyanyi: K.J. No.249:1 “Serikat Persaudaraan
1. Serikat persaudaraan berdirilah teguh,
sempurnakan persatuan di dalam Tuhanku.
Bersama-sama majulah dikuatkan iman.
Berdamai bersejahtera dengan pengasihan

14. Warta Gereja dan Doa Syafaat:

15. Bernyanyi: K.J. No.344:1 “Ingat Akan Nama Yesus” Persembahan III
1. Ingat akan nama Yesus kau yang susah dan sedih nama itu menghiburmu K’mana saja kau pergi .Reff: Indahlah namaNya, pengharapan dunia, Indahlah namaNya suka sorga yang baka.
2. Bawa nama Tuhan Yesus itulah perisaimu. Bila datang percobaan itu yang menolongmu. Reff:…
……Orgel/Musik….
3. Sungguh Agung nama Yesus, hati kita bergemar. Bila kita dirangkulnya sukacita pun besar. Reff:.. (ayat terakhir dinyanyikan dengan berdiri)

16. Doa Persembahan, Doa Bapa Kami dan Berkat
L : Marilah kita bersama-sama menyampaikan doa yang diajarkan Yesus
kepada kita:
L+J : Bapa Kami
L : Mengucapkan berkat…”
L+J : (Menyanyikan: Amin, Amin, Amin)



Catatan: - Pada setiap ayat paling akhir dari nyanyian no 5, 9, 11, 15
dinyanyikan dengan berdiri.
- Nyanyian dapat digantii sesuai dengan kebutuan.




















L+J : (Menyanyikan K.J no. 472) G=do 4/4
5 5 / 1 1 . 1 7 / 6 6 . ’ 6 1 / 7 7 . 6 7 / 6 5 .’
Pu ji Tu han Ha le lu ya Yesus Kris tus Ha le lu ya
5 5 / 1 1 . 1 7 / 6 6 . ‘ 6 1 / 7 7 . 6 7 / 1 1 . !!
Pu ji Tu han Ha le lu ya Yesus Kris tus Ha le lu ya

L : Dasa Titah (Membaca Keluaran 20: 1-17, atau dari nats Alkitab sebagai pengganti dasa Titah)
L+J : Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kami untuk berbuat sesuai dengan hukum hukumMu/FirmanMu. Amin

4. Bernyanyi :
5. Pembacaan Epistel
L : Epistel dalam minggu ini diambil dari…(kemudian membacanya)
Berbahagialah orang yang mendengar Firman Tuhan serta yang
melakukannya. Amin.

6. Bernyanyi :

7. Pengakuan Dosa:
L : Marilah kita merendahkan diri dan mengaku dosa-dosa kita di hadapan Tuhan. Kita mengosongkan dan menyerahkan diri dihadapan kuasa Tuhan (Hening...)
(Organ menyanyikan K.J. no. 300 satu ayat)
L : Ya Tuhan Allah Bapa Kami yang disorga, Allah yang Mahapengasih dan Pemurah. Kami datang kehadapanMu yang Kudus mengakui segala dosa dan kesalahan kami. Kami lahir didalam dosa dan sering menyimpang dari jalan kebenaran yang telah nyatakan kepada kami melalui FirmanMu. Kasihanilah kami yang kini menyesali dosa di hadapanMu, hapuskanlah segala dosa dan pelanggaran kami dari ingatanMu. Karena hanya Engkaulah yang dapat memberikan pengampunan dosa, melalui AnakMu Yesus Kristus Tuhan kami yang telah rela menderita sengsara hinggga disalibkan untuk menebus kami dari hutang dosa kami.
J : (Menyanyikan K.J. no. 300)
1 . 1 1 ! 2 . 2 . ! 3 1 1 2 !
Andaikan Yesus Kau bukan milikku
Dan tak Kau br’ikan darah Mu bagiku
Kemana aku mohon pengampunan dan perlindungan

L : Firman Tuhan tentang keampunan dosa bagi kita: Karena semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Yesus Kristus. Kristus telah ditentukan Allah menjadi jalan perdamaian karena iman dalam darahNya (atau dapat dipilih dari nats lain yang terdapat dalam agenda).
L+J : A m i n (Jemaat duduk)

8. Bernyanyi :

9. Pengakuan Iman (Jemaat berdiri)
L : Marilah kita mengucapkan Iman Percaya kita secara bersama-sama dengan seluruh orang Percaya di dunia ini :
L+J : Aku Percaya Kepada Allah Bapa…dst (Pengakuan Iman Rasuli)
(Jemaat duduk)

10. Bernyanyi : (Persembahan)

11. Khotbah
(Nyanyian sebelum khotbah:FirmanMu menjadi T’rang bagi hidup kami,Oleh kasihMu Tuhan Allah Bapa kami.FirmanMu, firmanMu b,rikan
pada kami agar menjadi Berkat bagi hidup kami.)
(Nyanyian Sesudah khotbah: FirmanMu berkatilah, kekal dalam hatiku,
Teguhkanlah imanku Yesus juruslamatku,Yang men’rima firmanmu diselamatkan olehMu. Doa pujianku t’rimalah ya Tuhanku.)

12. Bernyanyi :

13. Warta/Doa :

14. Bernyanyi : (Persembahan)

15. Doa/Berkat : (Jemaat berdiri)
L : Doa Persembahan, Doa Bapa Kami
Berkat:
Arahkanlah hatimu dan pulanglah dengan penuh suka cita dan damai sejahtera dari Allah Bapa, terimalah berkatNya ! Tuhan memberkati dan melindungimu Tuhan menyinarimu dengan wajahNya dan memberikan engkau kasih karunia Tuhan menghadapkan wajahNya kepadaMu dan memberikan engkau damai sejahtera. Amin.
L+J : (Sama-sama menyanyikan) Amin, Amin, Amin
Bes=do
1 . 1 . ! 1 . 1 . ! 1 . 7 . ! 1 . . .
A min A min A min
























Kebaktian Umum
(Model C)
1. Prosesi
(Setelah lonceng Gereja dibunyikan, petugas Minggu memasuki ruangan kebaktian yang disambut jemaat dengan berdiri. Terdengar sayup-sayup bunyi orgel menyanyikan K.J. No. 363 hingga semua petugas berada di tempat yang ditentukan. Kemudian jemaat secara serentak menyanyikan ayat 1: “Bagi Yesus kuserahkan, hidupku seluruhnya; Hati dan perbuatanku, pun waktuku milikNya. Bagi Yesus semuanya, pun waktuku milikNya. Bagi Yesus semuanya pun waktuku milikNya”)

2. Votum dan Salam
L : Pertolongan kita adalah dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh
Kudus. Kasih karunia dan Damai sejahtera menyertai saudara
saudara!
J : Dan menyertaimu juga
L+J : A m i n
(Jemaat duduk)
3. Nyanyian Bersama: K.J. 10: 1 – 2 (Nyanyian yang disesuaikan dengan arti Minggu)
1. Pujilah Tuhan, Sang Raja yang Maha mulia! Segenap hati dan jiwaku, pujilah Dia! Datang berkaum, brilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian.
2. Pujilah Tuhan; segala kuasa padaNya! Sayap kasihNya yang aman mendukung anakNya! Tiada terpri yang kepadamu dibri; tidakkah itu kaua rasa?

4. Doa dan Pengakuan
L : Marilah semua orang yang letih lesu dan berbeban berat
datanglah menghadap Tuhan:
J : Menyanyikan Nyanyian No 46:1 (Pelengkap Kidung Jemaat,
melodi:Sian hurungan ni dosangki)
Dari kungkungan duka kelam, ya Tuhanku, ku datanglah masuk terangMu bebas senang, ku datang padaMu.
Dari beban kesakitanku, masuk ke dalam kekuatanMu;
Dalam derita aku datang, Ya Yesus Tuhanku.
L : Marilah kita mengakui dosa-dosa kita:
J : Ya Allah Yang Mahakuasa dan Yang kekal! Kami mengaku
kepadaMu bahwa kami adalah orang-orang berdosa yang cenderung berbuat jahat melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Kami sering tidak patuh dan tidak setia sehingga kami semakin jauh dari Tuhan. Kami mohon kepadaMu, janganlah menghukum kami dalam kepanasan nugerahMu. Kasihanilah kami orang-orang yang berdosa ini. Tahirkanlah kami! Berilah Roh KudusMu bekerja di dalam hati kami supaya kami mengenal dosa-dosa kami, menyesalinya dan bertobat kepadaMu serta hidup sesuai dengan kehendakMu.
L : Aku telah menghapus dosa pemberontakanmu seperti kabut
diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepadaKu, sebab Aku telah menebus engkau!
L+J : Menyanyikan Nyanyian No. 996 (PBSR) Bapa Trima Kasih.
Bapa trima kasih, Bapa trima kasih.
Bapa di dalam Sorga, kami bertrima kasih.
5. Salam Persekutuan
( warga saling bersalaman terhadap saudara yang ada di kiri, kanan, depan dan belakang tempat duduk masing-masing).
Pemberi salam : Tuhan menyertai saudara!
Penerima salam: Dan juga besertamu!

6. Doa dan Nats Penuntun ( Doa biasanya diambil dari Mazmur dan Nats
penuntun biasanya dari surat-surat Paulus yang sifatnya teguran)
L : Marilah kita berdoa: Bapa kami yang Maha bijaksana, peringatan-peringatanMu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya. Bila tersingkap, firman-firmanMu memberi terang,
memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan
perintah-perintahMu. Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku
( Mzm 120: 129-132.b).
J : Menyanyikan : Haleluya – Haleluya – Haleluya.
L : Nats Penuntun Minggu ini tertulis dalam: Roma 16:19.b
“Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik,
dan bersih terhadap apa yang jahat”.
L+J: A m i n.

7. Nyanyian Bersama : K.J. 54:4 (Tak kita menyerahkan)
Di hati kami Tuhan Kau tulis SabdaMu, supaya kami juga setia dan teguh.Kendati gunung goyah, binasa dunia, kekallah Firman Allah selama-lamanya.

8. Epistel /Nats Hiburan (biasanya diambil dari Injil dan tidak dibacakan’
secara responsoria)
“Epistel Minggu ini tertulis dalam : “…. Amin.
9. Pengakuan Iman
L : Marilah kita bangkit untuk mengaku dan menyaksikan iman percaya kita. Percayakah engkau kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa?
J : Aku Percaya kepada Allah, Bapa ……dst.
L : Percayakah engkau pada Yesus Kristus, Tuhan kita yang disalibkan?
J : Aku Percaya kepada Yesus Kristus…dst.
L : Percayakah engkau kepada Roh Kudus?
J : Aku Percaya kepada Roh Kudus…. Dst.
L+J : A m i n
10. Nyanyian Bersama : K.J. No. 57:1
(dinyanyikan sambil berdiri hingga doa pembuka selesai).
Yesus lihat umatMu yang mendamba Kau berfirman,
Dan arahkan padaMu, hati dan seluruh indra.
Hingga kami yang di dunia, Kau dekatkan pada sorga.
(Jemaat duduk)
11. Khotbah
a. Nyanyian sesudah pembacaan : “FirmanMu menjadi Terang…”
b. Nyanyian sesudah penjelasan : “FirmanMu berkatilah …”

12. Nyanyian Bersama : K.J. No. 285:2 …
( mengumpulkan Persembahan 1-2)
2. Jiwaku disegarkanNya dan kar’na namaNya
DitunjukkanNya jalanku, yang lurus dan baka.
dst
13. Warta dan Doa Syafaat
14. Nyanyian Bersama : K.J. No. 457 : 1…
(mengumpulkan Persembahan 3)
1. Ya Tuhan tiap jam ‘ku memerlukanMu, Engkaulah yang memb’ri sejahtera penuh. Setiap jam ya Tuhan di Kau kuperlukan. Ku datang Jurus’lamat berkatilah.
2. dst
3. dst… (bait terakhir berdiri mengakhiri kebaktian)
17. Penutup: Doa dan Berkat.
L : Doa Persembahan/doa khusus
J : Doa Bapa Kami
L : Berkat
L+J : Amin – Amin – Amin.

( Modifikasi dari Liturgi Gereja Lutheran Jerman)
















PARTORDING NI ULAON MINGGU
(Model C)

Pangaradeon
PARAGENDA : Rap jongjong ma hita saluhutna.

HURIA : (Rap mangendehon : BE. No. 18)
Nunga ro au o Tuhanku, Ro ma Ho tu Au muse
Ai di bagas ingananMu, Las ni roha do sude
Sai bongoti rohangkon, Baen ma joroMi dison.

1. VOTUM : Marhitehite Goar ni Debata Amanta dohot Goar ni Tuhan
Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadi na manompa
langit dohot tano on, dipasaorma dameNa tu tondinta
(tondimuna) be. Amen.

PARAGENDA : Rap mandokma hita di tangiangta i:
HURIA : (Rap mangendehon : BE. No. 205)
1. Ale Jesus Tuhannami bereng hami na dison,
pinarmahanMi do hami saluhutna na dison.
Sai asi rohaM di hami, sai pangolu hami on. Amin.
(Hundul ma huria)
2. MARENDE :

3. PARAGENDA : (Manjaha sada ayat na marpardomuan tu goar ni
minggu/pesta sian na tarsurat di horong I.B ni Agenda). Martangiang ma hita … ( Manjaha sada sian na tarsurat di horong I.C hombar tu goar ni minggu /pesta i).
Didongani Tuhan Debata ma hita on (hamuna) saluhutna.
Amen

PARAGENDA/: (Mangendehon)
H U R I A : Haleluya …Haleluya…Haleluya

4. PARAGENDA: Tatangihon (Tangihonhamu) ma Patik /Tona ni Debata
(Manang ayat singkat ni Patik)
PARAGENDA : Antong rap ma hita mangido gogo tu Debata:
HURIA : (Mangendehon B.E.No. 30)
Ganup ari ma ajari hami na di haotoon i dope
Ase lam porsea hami, ho sambing do hangoluannami i
Lam lumeleng lam pasolhot tu RohaM ma roha nami
Hombar tu HataM ma pangolaho nami

PARAGENDA : Unang ma meret buku ni patik on sian pamanganmu, sai
pingkiripingkiri ma i arian dohot borngin, asa diradoti ho, jala dipatupa ho hombar tu na tarsurat dibagasan i ; asa maruntung ho diangka dalanmu jala marmulia parulaonmu.

5. PARAGENDA: Rap jongjong ma hita manopoti dosanta tu Debata:
HURIA : (Mangendehon BE. No. 182)
Tu jolom, o Debatangku sai use do rohangku
Sai pasiat tangiangku dohot iluilungkon

PARAGENDA : Patutoru hamu ma dirimuna tu toru ni tangan ni Debata na
gogo I, asa di patimbo hamu di tingkina I ! Tinggangkon hamu ma nasa na hinolsohon ni rohamuna tu Ibana, ai disarihonon do hamu.

HURIA : (Mangendehon BE. No. 182)
Husolsoli do rohangku Na gok dosa i tongtong
Ai godang ariaringku Na hubaen ambolong
Sai jotjot do hutadingkon dalanMi na tigor i,
Kristen au, hape hutondong dalan hamagoan i.

PARAGENDA : Alai na maimaima do hita dilangit na imbaru dohot di tano
naimbaru, inagan ni hatigoran I, hombar tu bagabagana. Dibahen I, hamu angka haholongan, anggo I dipaimaima hamu, ringkoti hamu ma , asa didapot Ibana hamu so martihas, so hasurahan, dibagasan dame. Ai molo taparangehon hatiuron, songon Ibana na dibagasan na tiur, saor do hita sama hita,jala dipaias mudar ni Jesus, Anak-Na I do hita sian dosa. Ibana do pardengganan pasaehon angka dosanta, tung dohot do dosa ni sandok portibion. Antong las ma rohamu; nunga sesa dosamu. Hasangaponma di Debata na di ginjang.
HURIA : A m e n (hundul ma huria)
7. MARENDE :

8. PARAGENDA : Tabegema Hata ni Debata turpuk epistel di hita na
tarsurat di…(Ditugashon ma tu ruas manjahahon.Dung
sun dijaha turpuk i di dok Paragenda ma:)
Martua ma angka na umbege jala na umpeop Hata ni
Debata.

HURIA : A m e n

9. MARENDE :

10. PARAGENDA : Rap jongjong ma hita saluhutna. Tahatindanghon ma
haporseaonta i, Laos rap ma hita mandok.
Ahu porsea di Debata Jahowa….
Ahu porsea di Tuhan Jesus Kristus…
Ahu porsea di Tondi Porbadia

11. MARENDE :
(Papungu Pelean I, II)

12. JAMITA :
(dung sun dijaha turpuk diendehon huria ma Hangoluan do HataM, jala dung sun dipatorang di endehon Pasupasu HataMi)

13. TINGTING : (ihut ma tangiang tingting)

14. MARENDE : (Pasahat Pelean III)
(Molo adong acara khusus diuduti ma dung sun pelean III: isara ulaon sakramen dohot ulaon na asing na marpadomuon tu ulaon huria)
15. PARAGENDA/
PARJAMITA : Rap jongjong ma hita saluhutna : tapasahat ma
pelean on tu Debata, Martangiang ma hita:
(dijahama tangiang pelean, dung I dipillit ma
Tangiang panutup na hombar tu Minggu /Pesta I
sian horong I. F)

Rap ma hita mangido marhite tangiang hatopan i:
H U R I A : Ale Amanami na di banua ginjang, sai pinorbadia
ma goarMu….

PARAGENDA/ : (Tangiang pasupasu)
PARJAMITA : Dipasupasu jala diramoti Tuhan Debata ma hita on
(hamu) saluhutna, Disondanghon Tuhan Debatama
bohiNa tu hita (hamu), jala sai asi ma rohaNa mida
hita (hamu).Di dompakhon Tuhan Debata ma bohi
Na tu hita (hamu), jala Dipasaorhon ma dameNa tu
tondinta (tondimuna) be. Amen.

H U R I A : (Mangendehon) AMEN AMEN AMEN
Bes=do 1 . 1 . ! 1 . 1 . ! 1 . 7 . ! 1 . . .
A men A men A men















PARTORDING NI ULAON MINGGU
(Model D)
Pangaradeon
PARAGENDA : Rap jongjong ma hita saluhutna. Tapahohom ma rohanta
mamongoti parsaoran dohot Debata. (Saat teduh; tarbege ma di endehon punguan parende(backing vocal) B.E. No.16:1 (HG))

1. VOTUM : Marhitehite Goar ni Debata Amanta, dohot Goar ni AnakNa Tuhan Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadia, namanompa langit dohot tano on, dipasaor ma dame Na tu tondimuna (tondinta) be. Amen.

HURIA : (Mangendehon B.E. No. 24:1)
Jesus hami ro di son asa masihangoluan
Ipe ro ma Ho tu son jala baen ma pardomuan
Ni tondiM tu tondinami unang mampar rohanami

2. PARAGENDA : Puji ma Jahowa, hamu ale angka na niasianna, jala endehon hamuma barita ni habadiaonNa i. Sai marsihohot ma rohamuna jala togu, sude Hamu angka na manghalungunhon Jahowa. Haleluya, Haleluya, Haleluya
HURIA : (Mangendehon) Haleluya…Haleluya…Haleluya.
(Hundul ma huria)

3. PARAGENDA : Tangihon hamu ma jolo Patik (Tona) ni Debata (manang ayat na gabe singkat ni Patik (Tona) i. Dung sun dijahahon diuduti Ma mandok:) Antong rap ma hita mangido gogo tu Debata:

HURIA : Ale Tuhan Debata sai pargogoi ma hami mangulahon na hombar tu Patik (Tona) Mi. Amin.

4. MARENDE :

5. PARAGENDA : Rap jongjong ma hita saluhutna. Tatopoti ma dosanta na godang i tu Debata , martangiang ma hita : (Dipillit ma sada sian na tarsurat di horong I . D. Dungi tarbege ma diendehon punguan parende (backingf vokal) sian B.E No. 198:1). Tabega ma bagabaga ni Debata taringot tu hasesaan ni dosa: Naung mate do Kristus ala ni dosanta. Naarga situtu do hamu ditobus ; Unang be olo hamu parhatobanon ni dosa dohot sibolis pangago i. MudarNa do diusehon bahen hasesaan ni dosa. Nunga tarsilang hadirionta na buruk raphon Ibana, asa pinasohot daging pardosaon. Antong mardame ma hamu sama hamu; masitopotan dosa ma dohot Marsitangiangan. Pos ma roham ale anaha: nunga sesa dosam, ala ni GoarNa i (manang dipillit sian natarsurat di horong I E). Hasangapon ma di Debata na di ginjang.

HURIA : (Mangendehon; BE.no.194)):
Aut so asi rohaM, aut so godang basam tu dia au.
Alai di baen basaM dohot Asi rohaM, tu surgo au
Mauliate ma di ho o Debata ala Basam
Sibahen dalan I, marhite anakMi tu BanuaM
(Hundul ma huria)

6. PARAGENDA : Tabege ma turpuk Epistel, patujolo ni jamita sadari on; i ma na nienet sian na tarsurat di: (Dijahahon ma turpuk i. Dungi di dok ma:)
Martua ma angka na umbege hata ni Debata jala na umpeopsa

HURIA : Amen

7. MARENDE :

8. PARAGENDA : Rap jongjong ma hita saluhutna. Tahatindanghon ma haporseaonta i, Rap mahita mandok:
Ahu Porsea di Debata Jahowa….
Ahu Porsea di Jesus Kristus…...
Ahu Porsea di Tondi Parbadia…..

9. MARENDE : (Huhut Papungu Pelean I, II)

10. JAMITA : (dung sun dijaha turpuk diendehon huria ma Hangoluan do HataM, jala dung sun dipatorang di endehon Pasupasu HataMi)
11. MARENDE :

12. TINGTING/ :
TANGIANG

13. MARENDE : (Huhut Papungu Pelean III)
(Molo adong acara khusus diuduti ma dung sun pelean III: isara ulaon sakramen dohot ulaon na asing na marpadomuon tu ulaon huria)

14. PARAGENDA/
PARJAMITA : (Dijahama tangiang Pelean, diuduti muse dohot
tangiang Panutup Minggu/Pesta na hombar tu
Minggu/Pesta i sian horong I.F dungi ihut ma di
dok:)
Rap ma hita mangido marhite tangiang Hatopan i:
Ale Amanami na di banua Ginjang…..

HURIA : (Mangendehon B.E. no.36:1-2)
Pasupasu hami, O Debatanami,
Sai sondanghon bohiMi, Tu na pungu on sude
Lehon ma tu hami, Dame ganup ari
Sai pasaor ma TondiMi, tu na pungu on sude

PARAGENDA/ : Mulak ma hamu dibagasan dame, tajalo (jalo hamu)
ma pasupasu ni Debata: Dipasupasu jala diramoti
Tuhan Debata ma hita (hamu) on saluhutna
Disondanghon Tuhan Debata ma bohiNa tu hita
(hamuna), jala sai asi ma rohaNa mida hita (hamu). Didompakhon Tuhan Debatama bohiNa tu hita (hamuna), jala dipasaorhon ma dameNa tu tondinta (tondimuna) be. Amen

PARAGENDA/
HURIA : (Mangendehon) AMEN AMEN AMEN
Bes=do 1 . 1 . ! 1 . 1 . ! 1 . 7 . ! 1 . . .
A men A men A men

TATA IBADAH PASKAH

A. Persiapan (Panggilan Beribadah)
Lonceng Gereja (saat teduh jemaat)

Bernyanyi : Mari Masuk (Jemaat berdiri, prosesi petugas kebaktian memasuki ruang ibadah: Pembawa Lilin, Alkitab, Liturgist dan Pengkhotbah)
sama-sama : Mari masuk, mari masuk, masuk hatiku, ya Bapa, datang s’karang, tinggal serta, dalam hatiku, ya Bapa.
Perempuan : Mari masuk, mari masuk, masuk hatiku, ya Bapa
Laki-laki : datang s’karang, tinggal serta, dalam hatiku, ya Bapa.
sama-sama : Mari masuk, mari masuk, masuk hatiku, ya Bapa, datang s’karang, tinggal serta, dalam hatiku, ya Bapa.

B. Ibadah
1. Votum-Responsoria-Doa (Jemaat tetap berdiri)
P : Di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus,
J : Amin
P : Jangan takut. Aku adalah Yang awal dan akhir dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah : Aku hidup sampai selama-lamanya, dan Aku memegang kunci maut dan kerajaan maut.
Pr. : Sesungguhnya Tuhan telah mati. Inilah hari yang dijanjikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersuka cita.
P : Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, serta perbuatan ajaib di mata kita.
Lk. : Sungguh Tuhan telah bangkit, mari naikkan nyanyian baru, pujilah Dia dengan segenap hati.
P : Terpujilah Engkau yang telah menaklukkan kuasa maut. Terpujilah Engkau yang mengalahkan kuasa Dosa. Terpujilah Engkau sang jalan, kebenaran dan hidup. Haleluya, haleluya, haleluya.
P+J : (menyanyikan seperti lagu Amazing Grace)
Haleluya, haleluya, haleluya, Amin.
Haleluya, haleluya, haleluya, amin. (Jemaat duduk)

2. Bernyanyi : K.J. No. 184:2
2. Yesus sayang padaku, Ia mati bagiku,
dosaku dihapus-Nya, sorgapun terbukalah
Ref.: Yesus Tuhanku, sayang padaku,
itu Firman-Nya di dalam Alkitab

3. Doa Pengampunan Dosa
P : Saudara-saudaraku yang kekasih di dalam Yesus Kristus, Kristus telah bangkit dan kuasa maut telah ditahlukkan. Kristus telah bangkit agar kita juga bangkit melawan dosa-dosa yang berusa menjauhkan kita dari Tuhan. Akan tetapi betapa sering kita gagal, kita lalai memberlakukan kebangkitan Yesus di dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah saudara-saudaraku kita datang kepada Tuhan memohon pengampunan, mari kita bangkit berdiri.
P+J : Menyanyikan K.J. No. 291:1
Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku, ku bawa dosa-dosaku, Di muka Tuhan Yesus.
P : Inilah kami ya Bapa, umat yang Engkau tebus melalui Anak-Mu Yesus Kristus. Kami sering gagal menunaikan tugas panggilan dan suruhan kami sebagai garam dan terang. Sering kami tidak berjuang dengan sepenuh hati, untuk mengalahkan berbagai bujuk rayu Iblis untuk mengalahkan dosa-dosa kami,
Kasihanilah kami ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaran kami menurut rahmat-Mu yang besar. Bersihkanlah kami seluruhnya dari kesalahan kami dan tahirkanlah kami dari dosa kami. Sebab kami sendiri sadar akan kesalahan kami, kami senantiasa bergelut dengan kesalahan kami.
P+J : menyanyikan K.J. No. 291:3
Di muka Tuhan Yesus, ku insyaf akan salahku, bertobat kini hatiku, di muka Tuhan Yesus.
P : Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Namun oleh karena kasih Karunia Allah, setiap orang percaya kepada Yesus telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya,dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup, Ia akan membimbing engkau sehingga kuat mengalahkan berbagai percobaan dan dosa.
P+J : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi. Amin
(Jemaat duduk)

4. Bernyanyi : Bagaikan Bejana
Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tangan-Mu.
Dengan urapan kuasa Roh-Mu, ku dibaharui selalu.
Jadikanku alat dalam rumah-Mu, inilah hidupku di tangan-Mu.
Bentuklah s’turut kehendak-Mu, pakailah sesuai rencana-Mu
Ref. : Ku mau s’perti-Mu Yesus, disempurnakan selalu.
Dalam s’luruh hidupku memuliakan nama-Mu… 2X

5. Pengakuan Iman : (Jemaat berdiri)
Aku percaya kepada Allah Bapa yang maha kuasa Khalik langit dan Bumi.
Dan Kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal Tuhan kita yang dikandung daripada Roh Kudus lahir dari anak dara Maria yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati naik ke sorga duduk di sebalah kanan Allah, Bapa yang Maha Kuasa. Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan Am. Persekutuan orang-orang kudus. Kebangkitan daging dan hidup yang kekal. Amin

6. Refleksi Iman (berupa Puisi) :

7. Bernyanyi : K.J. No. 212 : 1
1. Tuhanku bangkit pusara terbuka.
Ia menang atas maut dan duka.
Goncanglah benteng neraka gelap.
Yesus pahlawan yang hidup tetap,
Yesus pahlawan yang hidup tetap.
(Berdiri sampai doa khotbah selesai)

8. Khotbah/Renungan :

9. Bernyanyi : Persembahan
Betapa hatiku berterima kasih Yesus. Kau mengasihiku. Kau memilikiku. Hanya ini Tuhan persembahanku. Segenap hidupku jiwa dan ragaku. S’bab tak ku miliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk ku persembahkan. Hanya ini Tuhan permohonanku. Terimalah Tuhan persembahanku. Pakailah hidupku sebagai alatmu. Seumur hidupku.

10. Penutup
Doa Bapa Kami
Berkat :
Menyanyikan : Amin, Amin, Amin



Syalom,



LITURGI PARMINGGUAN UMUM
(7)
(Modifikasi Liturgi Gereja Lutheran Australia)

1. PROSESI : (Manghuling ma giringgiring laos jongjong sude ruas; prosesi
Parhalado sian pintu jolo. Uju Prosesi ruas dohot Parhalado
mangendehon B.E no.18:1-2. Parhalado jongjong di inganan
naung tinontuhon, na manguluhon Votum langsung tu altar,
mangadophon tu meja altar (songon posisi ni ruas). Dungpe sai
ende I, ibana mangadophon tu ruas).

2. V O T U M : (Pandita: mangendehon manang manghatahon)
P :1……………………………………………………………………………….. 1 6 1 1
Dibagasan goar ni Debata Ama, Anak dohot Tondi Par ba di a
R : (ruas mangendehon manang manghatahon:)
1……….. 1 1
A men

3. MARENDE :

4. PARAGENDA : (Manopoti Dosa, Jonjong/Marsinggang ma Paragenda dht ruas)
Nahinaholongan dibagasan Tuhan: Ro ma hamu jumonok,
dibagasan roha namagopu, taparhatopot ma dosanta tu Debata
amanta, laos tapangido ma tu Ibana hasesaan ni dosanta,
marhite goar ni Jesus Kristus.
P : (Mangendehon manang manghatahon)
1………………………………………………………………….. 6 1 1
Dibagasan goar ni Debata do pangurupion di hi ta
R : (Mangendehon manang manghatahon)
1………………………………. 6 1 1
Sitompa langit dohot ta no
P : 1…………………………………………………………………………………..6 1 1
Huhatahon, huparhatopot ma pangalaosionku tu De ba ta
R : 1………………………………… 6 1 1
Ale Tuhan sesa ma do san ki
P : Ale Debata Pargogo na so hatudosan, sitompa jala Sipalua hami,
diparhatopot rohanami ma tu Ho, pardosa do hami sian hatutubu
nami, jala mardosa do hami tu Ho, marhite pingkiran, hata,nang
parulaonnami. Siala ni ido ro hami maporus mangido asi nirohaM
dohot holong ni rohaM marhite Jesus Kristus Tuhannami.
P+R : O Tuhan parasiroha na so hatudosan, namangalehon anak
haholongan ni rohaM mate ala ni hami, jala marhite Ibana di lehon
Ho hasesaan ni dosa di hami. Marhite Tondi Parbadia dipatamba Ho
parbinotoannami di Ho dohot lomo ni rohaM, jala siala asi ni rohaM
partohap hami tu hangoluan salelengna; marhite Jesus kristus
Tuhannami. Amen.
P : Debata pargogo na so hatudosan, Amanta na di banua ginjang I,
namarasiroha di hita, nunga mangalehon anakNa nasasada I bahen
hasesaan ni dosanta. Tu angka naporsea di goar-Na dilehon do
hagogoon, gabe anak ni Debata, dilehon do TondiPorbadia laho
mangurupi. Di dok hata-Na do: na porsea jala tardidi dapotan
hangoluan. Basabasahon ma I tu hami, ale Tuhan.
R : A m e n
(hundul)

5. MARENDE :

6. S A L A M : (Diendehon/dihatahon)
P : 1 1 1 1 5 5 5 1 1 !
Tu han man do nga ni ho
R : 1 1 5 5 1 1
Nang do hot ton dim

7. PAPUNGU PELEAN: (Niuluhon ni Liturgist sian parhalado. Jumolo dijahahon
ayat na hombar tu pelean, dungi di padalan ma pelean I & II. Ditingki Pelean
onsai ma holan diiringi musik: Organ/ Keyboard/ sulim/ Gitar/ Gondang/ dna)
8. MANJAHA TURPUK PARSIAJARAN (Sian Padan Narobi): (Namanjaha sian
Parhalado manang ruas, jala di jaha sian podium: ayatna di tontuhon
Pandita).
Panjaha : Parsiajaran sian Padan Narobi tarsurat di….. bindu…….
Mamungka sian ayat…..sahat tu ayat.
Dung sun dijaha dohononna ma: I ma sahat ni parsiajaranta.
Dungi hundul ma ibana.

9. MARENDE :

10. E P I S T E L : (Namanjaha sian Parhalado manang ruas, sian mimbar)
P : Epistel di minggunta sadarion ima natarsurat di buku……. Bindu……..,
mamungka sian ayat……..sahat tu ayat. (Dung sun di jaha di dok
ma:) “ima sahat ni Epistel.”
Musik : 1 7 6 7 7 1 1
P + R : 6 5 4 5 6 5 . ! 6 1 6 5 3 . ! 5 6 6 4 4 5 5
Ha le lu ya Ha le lu ya Ha le lu ya

11. MANAJAHA EVANGELIUM (Injil/Padan naimbaru): (tingki na manjaha on,
jongjong ma sude ruas)
P : Evangelium tarsurat di buku….. bindu….mamungka sian ayat… sahat..
R : (Mangendehon/manghatahon)
1……………………………… 6 1 1
Hamuliaon ma di Ho Tu han
P : (Manjahahon turpuk I. Dung sidung di jaha di dok ma:) ima sahat ni
Evagelium
R : (Mangendehon “Hangoluan do HataM)

12. Manghatindanghon Hata Haporseaon:
(hundul)

13. MARENDE :

14. J A M I TA : (jumolo martangiang, dungi patorang Jamita. Dung salpu I,
mangendehon; Pasupasu HataMi)

15. MARENDE : (Papungu Plelean III)

16. TANGIANG PELEAN:

17. TINGTING : (Ihutma tangiang tingting)

18. MARENDE :

19. TANGIANG PANUTUP:
- Tangiang Hatopan
- Pasupasu
- Amen …Amen….Amen (diendehon)










Acara Partumpolon
(Alternatif (8))

I. Pangaradeon.
Ø Persiapan di bilut Parhobasan (Konsistori)
Ø Martangiang laho borhat sian Konsistori
Ø Prelidium (Joujou laho martangiang)

U : Tapahohom ma, taparade ma dirinta huhut tapahibul ma rohanta, laho
marsomba tu adopan ni Debata; ala saluhut denggan ni basaNa do na
mangaramoti hita sahat tu sadarion. Dibagasan serep dohot unduk ni roha
martangiang ma hita di bagasan rohanta be (diiringi orgen: B.E. No. 23/BL.
No 78/ saayat)

II. Kebaktian.
01. Votum (U: Uluan / R: Ruas)
U : Marhitehite goar ni Debata Ama, dohot goar ni AnakNa Tuhan Jesus Kristus
dohot goar ni Tondi Porbadia na manompa langit dohot tano on, di pasaor
ma dameNa tu tondintabe. Amen. Rap ma hita Martangiang:
R : Ale Jesus Tuhannami bereng hami na di son, pinormahanMi do hami
saluhutna na dison, sai asi rohaM di hami sai pangolu hami on. Amen.
U : Boto hamu ma on; Johowa do Debata, Ibana jumadihon hita jala Ibana
nampuna hita bahen bangsoNa dohot birubiruNa.
R : Ho do ale Jahowa na jumadihon hami jala nampuna hami on.
U : Beta hita manungkap dohot marsomba, marsinggang ma hita tu jolo ni
Jahowa sitompa hita.
R : Asi ma rohaM ale Debata sai jalo ma hami na ro tu joloM.
U : Ale Tuhan Debata; Ho do na mamungka parpadanan tu hami jolma na
tinobusMu, na pa hothon parpadan dohot asi ni roha tu naposoM,
angka na marparange di joloM sian nasa roha
R : Asi ma rohaM, sai ingani jala rajai ma roha dohot pingkirannami be marhite
TondiMi asa dibagasan hasintonganMi hami mangulahon nang manghatahon
sidohononnami.
U : Martangiang ma hita:
Ale Tuhan Debata mula ni nasa na adong, Amanami marhitehite Tuhan Jesus
Kristus. Na ro do hami nuaeng tu adopanmu mangundurhon anak ni huriaM: (Goar ni
Calon pengantin baoa) dohot boru ni huriaM: (Goar ni calon pengantin Boru), na
marsangkap pajongjong parsaripeon. Naeng martumpol ma nasida laho
manghatindangkon dirina di joloM marhitehite huriaM. Asi ma RohaM, sai rajai jala
ingani ma roha nasida asa dibagasan hasintongan nasida laho manghatindanghon dirina,
dinamarsangkap laho pajongjong pardongan saripeon i, asa marsangap ma Ho nang
Huriam, jala tau las ni roha di hami saluhutna. Amen.
02. Koor :
03. Marende : B.E. no. 30:4 (BL.135) - Boi do pilliton ende na asing
4. Sai tangihon ale Tuhan molo martangiang hami be tu Ho,/
pasupasu marlobian lehononMu tu na ro manopot Ho/
sai dongani nama hami asa hot di parpadanan/
mian hami sahat ro tu hasonangan.

05. Manjaha Surat Parpadanan. (U: Uluan/ P.O:Pangoli,Oroan/ NP: Natoras ni
Pangoli/ N.O: Natoras ni Oroan/ S: Saksi-saksi)
P/O : (Jongjong huhut manjaha surat pangidoan)
U : Andorang so disahab hamu surat parpadananmuna, hutangkasi ma jolo hamu
taringot tu bogasmuna nasai laon, burju ma alusi hamu. Sian nasa roha jala
iasnirohamuna do nanaeng pajongjong parsaripeon i ?
P/O : Sian nasa rohanami do jala naung tangkas hami marsipaoloan jala
masihaholongan
U : Beha, adong sanga tarihot hata manang padanmuna tu halak naasing laho
mardongan saripe, naso simpul dipatota hamu ?
P/O : (Molo so adong, alusna:) Sian roha na bulus jala sintong: “ndang adong”
U : Rade do hamu manuhuk tanggungjawab di hata naung dipatumpolhon hamu,
jala naso tupa haboratan hamu tu Huria i ala so sintong panindangionmuna i
gabe so patupaon ni huria i tu hamu Pamasumasuon i ?
P/O : Rade do hami manjalo i, jala naso tupa paurahonnami Huria i.
U : Nuaeng pe, na manungkun ma hami tu hamu natoras ni pangoli: Boha ?
Sian pamotoanmuna, tutu do nahinatindangkon ni ianakhonmuna i naso
adong bogasna manang dipaundukhon hamu ibana tu boru naasing ?
Satolop do hamu patulushon padan naung niundukhon ni ianakhon muna on?
NP : (molo tutu dialusima:) I do tutu, jala ndang adong huundukhon hami tu
boru naasing. Satolop do hami disangkap nasida i; sai dipargogoi Tuhan i ma
ibana patulushon padan naung ni undukhon na i.
U : Suang songon i ma di hamu natoras ni oroan, boha ? Tutu do panindangion ni
borumuna i, jala naso adong tarunduk hata hamu manang dipaorohon hamu
ibana tu halak na asing ? Satolop do hamu disangkapnasida i ?
N.O : (Molo tutu dialusima:) I do tutu, jala naso adong huundukhon manang
hupaorohon hami ibana tu baoa naasing. Satolop do hami disangkapnai, sai
dipasupasu Tuhan i ma ibana patulushon sangkap pangidoan nasida i.
U : Songon i ma tu hamu saksi dohot sude hita napungu dison, atik boha adong
taboto manang na haboratan di hata nasida i, tangkas ma tapaboa asa
ditimbangi.
S : (rap mangalusi) “Nunga tota be saluhutna”
U : Antong ro ma hamu mansahab parpadananmuna on.
05. Mansahab (manandatangani) Surat Parpadanan; roma tu jolo
a. Pangoli d. Natoras ni Oroan g. Napatumpolhon
b. Oroan e. Saksi/Sintua sian Paranak
c. Natoras ni pangoli f. Saksi/Sintua sian Parboru

U : Songonon ma pinabotohon tu hita saluhutna, ia pangidoan ni: (goar ni calon pengantin):
Tingtinghononhon ma i di Huria,: Tingting I, Minggu 20 Juni 2004
dohot Tingting II, Minggu 27 Juni 2004, asa dohot Huria i tumangianghon
sangkap nasida dinalaho manjalo Pasupasu Pardongansaripeon sipatupaon di
ari ..... di huria.....

06. Marende/Koor : B.E. no 122:1+4 (BL.13) – manang boi do pilliton ende na asing
1. Ida hinadenggan ni angka nasaroha i/
Parpabaenan na burju, nang hatana pe tutu
4. Diparbaga Debata tu na marsaroha da
Pasupasu na godang ima roha na sonang
07. J a m i t a :
08. Marende : B.E. no.188:1-2 (Huhut Pasahat Pelean)
1. Jahowa siparmahan au, ndang hurang manang aha/
Ai nasa jea dipadao do sian dorbiana/
Tongon dibahen na lomak i, lao pangoluhon tondingki
Dibaen asi rohaNa
............................. Organ .............................
2. Ditogu au tu na tio, aek mata hangoluan
Dibahen do tondingki sio, di dalan hasonangan
Sabam rohang do tongtong, saleleng au ditano on
Bahen sangap di goarNa
09. Tangiang Panimpuli (Tangiang Pelean dungi diuduti Tangiang Ale Amanami)
10. U + R : (Mangendehon)
1 . 1 . / 1 . 1 . / 1 . 7 . / 1 . . . / Bes=1

A min, A min, A min.
III. (Dung simpul acara on, pinasahat ma tu hasuhuton )






(surat sijahaon ni calon Pengantin di acara panindangion)

Surat Panindangion dohot pangidoan laho Pajongjong Parsaripeon
(Calon Pangoli)
Ahu:
1. Goar : ______________________________________________________
Tubu : ____________________/_________________________________
Tardidi : ________________di huria _______________________________
Malua : ________________di huria _______________________________
Anak ni : a. Bapa : _______________________________________________
b. Oma : _______________________________________________
Huta : _____________________________________________________
Ruas ni Huria : _____________________________________________________

Dohot
(diuduti nanaeng oroan manjaha hatorangan diri)

Ro tu adopan ni Majelis/Parhalado Huria Kristen Indonesia ............................ Resort ......................., mangido asa pardongansaripeon nanaeng sipajongjongonnami dipasupasu hombar tu ruhut dohot aturan ni Huria Kristen Indonesia (HKI).
Hupasahat hami pangidoan on di adopan ni Majelis/Parhalado dohot di jolo ni natorasnami nang angka sitindangi rap dohot situannatorop. Huhatindanghonhami: naso adong huula hami pangalaho na boi manundati Pamasumasuon pardongansaripeon i hombar tu aturan ni Huria, jala naso adong tarihot manang tarunduk hata hami tu halak naasing naeng mardongansaripe. Molo adong halak na haboratan taringot tu sangkap pardongansaripeonnami on, hami na dua do namanuhuk jala bertanggungjawab; jala naso jadi haboratan manang uhumonnami huria i ala so di pasahat pangidoan i ala na lipe panindangion nami on.
Hupasahathami pangidoan on di naung hibul rohanami, satahi sian roha na ias jala tangkas hami naung masihaholongan sian nasa roha; dibagasan panghirimon, dijanghon jala dipatulus ni Huria i sangkap pangidoannami on.
Songon i ma hupasahat hami Panindangion dohot Pangidoan on tu hamu Majelis/Parhalado Huria Kristen Indonesia di ............................................

(huta) ....................tgl, .......200....
Hami na marpangidoan
calon Pangoli,
Goar:......................


Surat Panindangion dohot pangidoan laho Pajongjong Parsaripeon
(nanaeng oroan)
Ahu,
2. Goar : ______________________________________________________
Tubu : ____________________/_________________________________
Tardidi : _________________di huria ______________________________
Malua : _________________di huria ______________________________
Anak ni : a. Bapa : ________________________________________________
b. Oma : ________________________________________________
Huta : ______________________________________________________
Ruas ni Huria : ______________________________________________________



Ro tu adopan ni Majelis/Parhalado Huria Kristen Indonesia .................................... Resort ................................, mangido asa pardongansaripeon nanaeng sipajongjongonnami dipasupasu hombar tu ruhut dohot aturan ni Huria Kristen Indonesia (HKI).
Hupasahat hami pangidoan on di adopan ni Majelis/Parhalado dohot di jolo ni natorasnami nang angka sitindangi rap dohot situannatorop. Huhatindanghonhami: naso adong huula hami pangalaho na boi manundati Pamasumasuon pardongansaripeon i hombar tu aturan ni Huria, jala naso adong tarihot manang tarunduk hata hami tu halak naasing naeng mardongansaripe. Molo adong halak na haboratan taringot tu sangkap pardongansaripeonnami on, hami na dua do namanuhuk jala bertanggungjawab; jala naso jadi haboratan manang uhumonnami huria i ala so di pasahat pangidoan i ala na lipe panindangion nami on.
Hupasahathami pangidoan on di naung hibul rohanami, satahi sian roha na ias jala tangkas hami naung masihaholongan sian nasa roha; dibagasan panghirimon, dijanghon jala dipatulus ni Huria i sangkap pangidoannami on.
Songon i ma hupasahat hami Panindangion dohot Pangidoan on tu hamu Majelis/Parhalado Huria Kristen Indonesia di .....................................

(huta)................., tgl.......... 200-
Hami na marpangidoan
calon Oroan,
Goar......






















Tata Ibadah Memasuki Rumah Baru/Penyerahan Kunci
Mamongoti bagas Sibaganding Tua/Paulak Tukang
(10)

(acara on jumolo di patupa di alaman ni jabu nanaeng si bongotan i)
1. Agenda : Marhitehite Goar ni Debata Amanta dohot Goar ni Tuhan Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadi na manompa langit dohot tano on, dipasaorma dameNa tu tondinta (tondimuna) be. Amen.

2. Marende :

3. Agenda : (Manjaha Ayat dohot tangiang)
Molo so Jahowa paulihon bagas, loja sambing do angka na mamandei; molo so Jahowa marhal hutai, ‘ndang marniula hadudungo ni Parhal. (Psalm. 127;1). Martua ma ganup na manghabiari Jahowa, na marparange di angka dalannai. Saipanganonmu do na niula ni tanganmu, martua ma ho jala sonang. (Psalm 128:1-2).
Martangiang ma hita:
Mauliate dohot Pujipujian ma di Ho ale Jahowa, Debatanami. Asi ni roham do namanumpahi jala mamasumasu ngolunami. Ho do namamasumasu jala namandongani umbahen nasahat hami tu halalas ni roha songon di ari sadarion, saut simpul bagas sibaganding tua na dijolonami on. Asi ma roham, Tompa ma roha na ias dibagasan hami, ale Debata, jala paimbaru ma tondi na marsihohot dibagasan hami. Sai pasupasu ma bagas on dohot saluhut namaringan dibagasanna. Ingani jala rajai ma tongtong nasida namangingani, bahen ma bagas on pangalapan gogo, inganan hadameon jala parmiaman ni hatam. Sai pasuang ma tu hami halalas ni hatuaonmu, jala togu ma hami marhitehite tondi ni haringgason asa hot ma hami marhaporusan jala mangasahon Ho asa sahat hami tuhasonangan na umbalga na pinarademi marhitehite Jesus Kristus Anakmi. Amen

4. Marende : (dison ma dipasahat na manguluhon kebaktian kunci ni jabui (dohot
na hombar tusi) tu parjabu laos dibuka ma pintu jala masuk ma
saluhutna mangudutii kebaktian dibagasan jabu)

5. Martangiang: ( Tangiang parhorason sian Tulang: asa horas Tukang, horas nang
Parjabu )

6. Marende :

7. Jamita :

8. Marende : (Huhut papungu Pelean)

9. Tangiang Pelean :

10. Tangiang Panimpuli : (Ale Amanami)

11. Pasupasu :










Acara Partumpolon
(Terjemahan dari Agenda Bahasa Indonesia)

Pangaradeon : - Dibahen hian ma hundulan ni Calon Pangoli, Oroan, Natoras
(ni Pangoli dohot Oroan) dohot Saksi-saksi di jolo.
- Ditangkasi hian ma angka Goar, tanggal dohot inganan
hatutubu dohot angka namarpardomuan tusi asa denggan di
buku partumpolon.

1. V o t u m : Marhitehite Goar ni Debata Amanta dohot Goar ni Tuhan Jesus
Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadi na manompa langit dohot
tano on, dipasaorma dameNa tu tondinta (tondimuna) be.
Amen.

2. M a r e n d e :

3. Partumpolon :
Uluan : Andorang so jinahahon surat Pangidoan partumpolon on,

I. Tu Pangoli:
- Namanungkun ma nuaeng tu ho.................. (Goar ni pangoli). Sian roha na ias dohot sian holong ni roham do naeng marpadan ho dohot si ..........................(goar ni nanaeng oroan) ? Molo naung sian ias dohot holong ni roham, alusima : “Sian ias dohot holong ni rohangku do.”
- Beha ? Atik adong, manang hea hatam manang marpadan laho mardongan saripe tu sada anak boru na asing ? Molo so adong, alusima : “ Ndang adong”
- Alani i, rade do ho manean, molo adong na haboratan taringot tu alusmi, jala naso haboratan ho tu Huria on hinorhon ni naso toho alusmi gabe so patupaon ni huria pasupasu pardongansaripeon i tu ho ? Alusna: rade do au disi, jala naso jadi susaanku huria i.

II. Natoras ni Baoa
- Namanungkun ma au tu hamu natoras/namangamai ni si............ Sian ias ni rohamuna do manjalo dohot manolopi sangkap pardongan saripeon ni ianakhonmuna namargoar si ................ dohot si............ (nanaeng oroan). Molo i do alusi hamuma : “Sian ias ni rohanami do”
- Hea tarunduk hata manang adong hatamuna paorohon ianakhonmuna tu boru naasing naso dipatota hamu dope? Molo so adong, alusi hamuma: “Sian pamotoannami, tota do saluhutna, ndang adong hu paorohon hami ianakhon nami on tu boru na asing.”
- Alani i, rade do hamu manean saluhut hasintongan ni hatamuna i, jala naso susaanmuna huria i molo adong nahaboratan dialusmuna i ala ndang sintong hatamu i, gabe ndang patupaon ni huria ulaon pamasumasuon i ? Alusi hamuma: “Rade do hami disi, jala naso tupa susaannami huria i”

III. Tu Oroan
– Namanungkun ma au tu ho : .................. (Goar ni Oroan) Sian roha na ias dohot sian holong ni roham do naeng marpadan ho dohot si ..........................(goar nanaeng Pangoli) ? Molo naung sian ias dohot holong ni roham, alusima : “Sian ias dohot holong ni rohangku do.”
- Beha ? Atik adong, manang hea ho tarunduk hata manang marpadan laho mardongan saripe tu sada naoa na asing ? Molo so adong, alusima : “ Ndang adong”
- Alani i, rade do ho manean, molo adong na haboratan taringot tu alusmi, jala naso haboratan ho tu Huria on hinorhon ni naso toho alusmi gabe so patupaon ni huria pasupasu pardongansaripeon i tu ho ? Alusna: rade do au disi, jala naso jadi susaanku huria i.

IV. Natoras ni Oroan
- Namanungkun ma au tu hamu natoras/namangamai ni si............ Sian ias ni rohamuna do manjalo dohot manolopi sangkap pardongan saripeon ni borumuna namargoar si ................ dohot si............ (nanaeng Pangoli). Molo i do alusi hamuma : “Sian ias ni rohanami do”
- Hea tarunduk hata manang adong hatamuna paorohon borumuna on tu baoa naasing naso dipatota hamu dope? Molo so adong, alusi hamuma: “Sian pamotoannami, tota do saluhutna, ndang adong hu paorohon hami borunami on tu baoa na asing.”
- Alani i, rade do hamu manean saluhut hasintongan ni hatamuna i, jala naso susaanmuna huria i molo adong nahaboratan dialusmuna i ala ndang sintong hatamu i, gabe ndang patupaon ni huria ulaon pamasumasuon i ? Alusi hamuma: “Rade do hami disi, jala naso tupa susaannami huria i”

V. Saksi
Di hamu sitindangi (saksi) sian nanaeng pangoli dohot nanaeng oroan: nunga dibege hamu panindangion ni nanaeng pangoli dohot oroan suang songon ii dohot natorasna. Namunungkun ma au tu hamu, boha do alusmu tu panindangion ni nasida i ? Alusi hamu ma: “Sian pamotoannami, sintong do hata nasida, jala ndang adong na gabe panundati tu pamasumasuon na pinangidona i.”

VI. Natorop
Nuaeng tu hita saluhutna na pungu dison, atik adong nahaboratan di sangkap pamasumasuon ni si........... dohot si............... ? Molo adong, dipabotohon ma tangkas saonari. Molo so i pabotohon hamu ma tu huria andorang so dipasahat pasupasu pardongansaripeon i tu nasida.
(Molo adong na haboratan, tangkas ma disurathon namanguluhon partumpolon i Goar, huta (alamat), ulaon na, jala dia partalianna tu nanaeng manjalo pasupasu i. Ditangkasi ma hasintongan ni haboratanna i jala dipabotohon tu natorop disi asa dohot nasida manimbangi: tarbahen sundatan ni huria do pamasumasuon i ala ni haboratan i ?)

Uluan : Tu hamu nadua, adong dope tingki laho patotahon angka
nasosingkop dope namarpardomuan tu pangidoanmuna on sahat tu
tingki ulaon pamasumasuon i. Molo adong angka haboratan, manang
langkamu namaralo tu hata ni Debata dohot maralo tu ruhut ni huria
i, sesa (batal) do surat pangidoanmuna on. Jala ingkon tangkas do
dohonon tu hamu, nasa namangulahon ngolu parsaripeon so jolo
manjalo pasupasu pardongansaripeon, hona ruhut paminsangon ni
huria do nasida.

4. Manjaha Surat partumpolon: (dijahahon na patumpolhon)
Songonon ma surat partumpolon nanaeng sisahapon (tandatanganon) muna, jala molo adong nanaeng sipatureon dope, isara; goar, inganan/ari hatutubu dohot angka naasing paboa hamuma asa tapature (dungi dijahahon napatumpolhon ma surat i, jala dijouma angka naung diaturhon laho mansahab, dungi ....).
Dohot on pinabotohon ma tu hita saluhutna, ia pangidoan ni ..........(goar ni Pangoli) dohot ................(goar ni oroan) nanaeng manjalo pasupasu pardongansaripeon sian huria, nunga sahat be tu Majelis ni huria on. Disangkapi ia ulaon i patupaon di ari...................... (Tanggal) maringanan di huria ................ Tingtinghonon ni huria ma pangidoan on, Tingting I............................. Tingting II ................ (di huria ni nasida nadua).

5. Marende :

6. Jamita :

7. Marende : (Huhut papungu Pelean)

8. Tangiang Panimpuli: (Tangiang Pangondian (safaat) diuduti tangiang Ale Amanami, dungi Pasupasu).

(Dung simpul ulaon on, dipasahat ma tingki mandok hata tu hasuhuton).

INTEGRITAS DAN STATUS SOSIAL ORANG BERHIKMAT

INTEGRITAS DAN STATUS SOSIAL ORANG BERHIKMAT



Hikmat berasal dari Tuhan. Sejak awal, penulis kitab Amsal menyaksikan bahwa: “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” (Ams. 1:7). Jadi ada kaitan yang jelas antara orang berhikmat dengan hidup yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan beroleh hikmat. Tetapi mereka yang mencoba mengenal Allah dari analisa pemikiran atau dari pertimbangan-pertimbangan atas perhitungan manusia, akan gagal, bahkan banyak yang akhirnya sesat dengan menyangkal Tuhan. Artinya, orang yang mengandalkan pikiran dan pertimbangan duniawi tidak identik dengan orang berhikmat.
Orang berhikmat itu adalah orang yang memiliki pengetahuan yang memungkinkan orang itu mengenal Yang Mahakudus (Ams. 30:3). Sehingga, orang yang berhikmat akan mampu melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar dalam setiap perjalanan hidup dan pelayanannya di tengah-tengah realitas dunia ini. Mereka yang mengalami perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidupnya akan memiliki integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan harkat dan martabat manusia. Mengapa? Sebab, hikmat yang dari Tuhan, itu menuntunnya kepada sikap yang tenang dan keyakinan akan anugerah Tuhan yang memberikan segala sesuatu yang perlu dalam hidupnya.

Orang berhikmat tidak akan mengerjakan sesuatu tanpa campurtangan Tuhan. Sehubungan dengan itu, Amsal 23:1-8 ini secara halus mengingatkan beberapa hal agar setiap orang berhikmat menjaga integritasnya dalam mengejar cita-cita, karier dan status sosial yang diinginkannya.



Peluang dan ancaman bersama seorang pembesar (ayat 1-3).

Memiliki relasi dengan seorang pembesar adalah sebuah peluang, dan sekaligus juga ancaman. Ada banyak hal yang dapat diharapkan dari hubungan yang baik dengan orang-orang terhormat. Secara umum, kita senang dan bangga dekat dengan seorang pembesar, bukan saja dengan pejabat dan orang kaya, tapi juga dengan seorang publik figur, seorang artis misalnya. Namun, orang berhikmat yang dekat dengan seorang pembesar tidak akan terjebak dengan penampilan dan gaya hidup pembesar itu. Orang bijak yang menuliskan Amsal ini memiliki pengalaman yang mesti dicamkan oleh siapa saja yang memiliki relasi dengan seorang pembesar. Sebab, duduk satu meja dengan seorang pembesar, bukan saja menjanjikan sebuah kesempatan untuk promosi jabatan dan sejenisnya, tetapi sebaliknya juga dapat menjadi ancaman yang mematikan karier dan bahkan nyawanya.

Pengalaman yang paling menyakitkan dari orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan seorang pejabat, penguasa dan orang kaya adalah ketika, oleh satu dan lain hal, sang pembesar mencampakkan dan meninggalkannya bagaikan sampah di Tempat Pembuangan Akhir. Penulis Amsal ini, luput dari tragedi seperti itu karena hikmat sungguh menuntun hidupnya, yakni dengan sangat hati-hati terus mengevaluasi kedekatannya dengan sang pembesar. Orang bijak yang menulis Amsal ini dengan cermat memerhatikan apa yang ada di depannya (ayat 1); dia bukan saja memperhatikan hidangan yang disuguhkan pembesar itu, tetapi jauh ke dalam motiv dan tujuan jamuan makan pembesar itu. Sebab, orang bijak harus menjaga integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan kehormatan daripada kemewahan hidup. Kalimat perintah yang mengatakan: “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” (ayat 2) secara tegas mengingatkan bahwa jamuan makan mewah yang menjebak sungguh merupakan ancaman bagi orang yang tidak berhikmat. Oleh karena itu, jangan sampai tertipu dengan makanan pembesar yang lezat (ayat 3). Orang berhikmat, sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak akan menjual status dan harga dirinya demi makanan yang lezat seperti Esau (Kej. 25:29-34). Tetapi, seseorang yang takut akan Tuhan, dengan hikmat mengalahkan godaan makanan, seperti Yesus Kristus yang menang dalam pencobaan oleh iblis (Mat. 4:3-4).



Orang berhikmat tidak materialisme (ayat 4-5).

Orang bijak dalam Amsal ini sama sekali tidak alergi dengan kekayaan. Menjadi kaya tidak ada salahnya. Namun, ungkapan orang bijak pada Amsal ini jelas mengingatkan kesia-siaan mengejar status sosial melalui kekayaan. Status sosial yang didasarkan pada kekayaan material tidak bertahan lama; karena kekayaan dapat hilang sekejap mata, terbang seperti burung rajawali (ayat 5). Status sosial memang penting, namun bukan dengan memburu uang. Sebagaimana diingatkan oleh Paulus kepada Timotius, bahwa oleh karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka (1Tim. 6:10). Artinya, orang yang berhikmat akan menjaga ambisinya agar tidak jatuh kepada roh materialisme. Orang berhikmat boleh saja kaya raya, tetapi tidak materialis, sebab memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas (Ams. 16:16). Mengejar kekayaan dengan susah payah bukanlah suatu obsesi orang berhikmat, karena kekayaan selalu dilihat sebagai berkat yang kemudian ditambahkan oleh Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh melakukan kehendak-Nya (Ams. 10:22). Oleh karena itu, seseorang yang berhikmat berjerih payah untuk melakukan kebenaran, yang berkenan bagi Tuhan, serta menghindari jalan yang menyesatkan. Sehubungan dengan itu pula Yesus Kristus mengajarkan, supaya setiap orang percaya mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua hal, termasuk kekayaan akan ditambahkan kemudian. Kekayaan dilihat sebagai bonus, bukan sebagai goal yang mau dicapai (Mat. 6:33).



Menjadi orang yang tulus dan berbelas kasih (ayat 6-8)

Orang bijak melihat ada kaitan yang erat antara kekayaan dan ketulusan hati serta belas kasihan. Di sini jelas bahwa orang kaya tidak selalu dilihat negatif; yang negatif adalah kekikiran dan ketidak tulusan dalam memberi (jamuan) kepada orang lain. Oleh karena itu, larangan orang bijak pada ayat 6, “jangan makan roti orang yang kikir” harus dilihat dalam konteks kepribadian orang kaya yang menyuguhkan makanan lezat itu. Apakah orang kaya yang memberikan jamuan makan itu merupakan pribadi yang tulus dan pengasih, atau sebaliknya ia memang seseorang yang biasa menggunakan kekayaannya untuk menjerat orang lain demi kepentingan pribadi? Orang berhikmat tidak akan menjual harga dirinya dengan memakan suap yang lezat atau memberikan kata-kata yang manis untuk menyenangkan hati orang kaya yang tidak tulus (ayat 8). Namun demikian, orang bijak tidak akan apriori terhadap orang kaya. Orang bijak malahan harus memberikan pengaruh yang positip agar setiap orang kaya menjadi orang yang memberi dengan tulus, dan memiliki kepedulian terhadap mereka yang miskin, terbelakang, dan terlindas oleh kemajuan zaman.
Orang kaya yang tulus hati dan penuh kepedulian terhadap nasib sesama yang menderita akan sangat efektip mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi. Malahan boleh dikatakan, bahwa cara yang paling efektip untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran serta kekerasan, yang menjadi bahaya laten dalam negara-negara berkembang, seperti Indonesia, adalah dengan membangun moralitas orang kaya melalui penganugerahan penghargaan yang tinggi bagi setiap orang kaya yang berusaha keras memerangi kemiskinan, membuka lapangan kerja yang luas, dan mendirikan pusat perlindungan terhadap korban-korban kekerasan. Sebaliknya, sebagai upaya pencegahan dan menekan orang-orang kaya yang menyalah gunakan kekayaannya untuk suap dan berbagai usaha yang merusak kehidupan masyarakat, maka diperlukan langkah-langkah yang bijak dengan sikap dan tindakan hukum yang tegas dan konsisten.
Orang kaya yang berhikmat akan membangun integritas dan status sosial yang terhormat dan mulia apabila dengan tulus hati memberikan perhatian dan karya nyata yang dapat mengangkat nasib orang miskin, dengan membangun lapangan kerja dan mendukung semua upaya peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Orang kaya yang berhikmat malahan dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap pemerintahan yang sehat dan bersih dengan menggugat oknum-oknum pejabat publik yang bermental korup.

Senin, 08 November 2010

Kumpulan Ilustrasi

Topik : Teladan Hidup


Usaha yang Mustahil
Nats : Tetapi Allah membangkitkan Dia [Yesus] dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kisah Para Rasul 2:24)
Bacaan : Matius 27:62-28:8
Saat itu sehari setelah Yesus disalibkan. Jenazahnya disimpan di kubur. Namun para imam kepala dan orang-orang Farisi yang memimpin penyaliban-Nya merasa gelisah dan berpikir bahwa penyaliban ini mungkin bukanlah akhir dari kisah Yesus. Itu sebabnya mereka menghadap Pilatus dan mengatakan kepadanya bahwa para murid Yesus mungkin akan mencuri jenazah-Nya untuk meyakinkan orang-orang bahwa Dia telah menggenapi nubuat-Nya, yakni bangkit dari kubur. Pilatus menanggapi, “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik- baiknya” (Matius 27:65).
Mereka pun menempatkan para penjaga di sana dan memeterai kubur itu (ayat 66). Para pemimpin agama dan politik telah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan bahwa jenazah Yesus akan tetap berada di dalam kubur. Padahal mereka mengusahakan suatu hal yang mustahil. Maut tidak dapat menguasai Anak Allah yang tidak berdosa. Maka, pada hari yang ketiga Dia bangkit seperti yang telah difirmankan-Nya (20:19; 27:63; 28:1-8).
Setelah kebangkitan Yesus, para imam kepala menyuap para serdadu dan mengatakan kepada mereka supaya menyebarkan kabar yang menggelikan bahwa para murid telah mencuri jenazah Yesus (28:11-14). Sampai saat ini, orang-orang skeptis masih saja saling melontarkan teori yang tak masuk akal. Mereka berusaha menyangkal kebangkitan Yesus. Meskipun mereka terus berusaha menimbulkan keraguan atas bukti sejarah, tetapi kebenarannya adalah: Yesus bangkit dari kubur.
Kita melayani Juruselamat yang hidup!



Yesus Memahami Anda
Nats : Sama dengan kita, Ia [Yesus] telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15)
Bacaan : Ibrani 2:9-18
Andy yang baru berusia tujuh tahun harus merelakan tangan kirinya diamputasi. Memang tidak mudah baginya untuk menyesuaikan diri dengan hal itu. Karenanya ketika ia kembali bersekolah, gurunya ingin teman-teman sekelasnya memahami betapa sulitnya Andy kini menjalankan berbagai aktivitas secara normal. Jadi, suatu pagi guru itu me-minta semua siswa lain untuk menyembunyikan tangan kiri mereka di balik punggung. Dengan demikian, mereka harus melakukan segala aktivitas hanya dengan tangan kanan.
Hal-hal kecil seperti membuka halaman buku, menulis dengan rapi, dan menahan agar kertas tidak tergeser menjadi sulit. Mengancingkan baju membutuhkan usaha ekstra, dan mengikat tali sepatu menjadi hal yang mustahil. Sejak itu, teman-teman sekelas Andy menyadari bahwa satu- satunya cara agar mereka bisa memahami kesulitan Andy adalah dengan mengalami sendiri berbagai kesulitan yang ia hadapi.
Karena Tuhan Yesus, Putra Allah, telah menjadi manusia, maka Dia juga dapat memahami berbagai ujian dan pencobaan yang kita hadapi. Dia memahami setiap dukacita, derita, dan kesulitan yang kita hadapi sebab, "Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani 2:18). Dan karena Dia tidak berdosa (4:15), Dia dapat mati menggantikan kita sebagai kurban yang sempurna bagi dosa-dosa kita (2:14-17).
Betapa bersyukurnya kita karena memiliki Juruselamat yang memahami dan peduli kepada kita!



Hidup Berkemenangan
Nats : Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1Timotius 6:6)
Bacaan : 1Timotius 6:3-19
Saya sering dikuatkan oleh banyak orang tanpa mereka sadari. Saya teringat ketika pada suatu malam yang telah larut, saya berjalan menyusuri ruang santai di komunitas pensiunan orang-orang kristiani. Malam itu, semua penghuninya telah masuk ke kamar masing-masing, kecuali seorang wanita tua. Tanpa menyadari kehadiran saya, dengan sabar ia mengerjakan puzzle bergambar sambil bersenandung riang sendirian. Kelihatannya ia cukup puas dengan keadaannya itu.
Saya pun bertanya-tanya, "Bagaimana orang dapat mengalami rasa cukup yang sejati dalam situasi apa pun?" Rasul Paulus membahas masalah ini dalam 1 Timotius 6. Ia memperingatkan orang-orang tidak jujur yang memandang ibadah sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan finansial (ayat 5). Kedua, ada juga se-buah kesalahan lain yang sering tidak disadari umat kristiani, yakni keyakinan bahwa ibadah ditambah uang adalah kombinasi hidup berkemenangan. Paulus membetulkan kedua kesalahan ini dengan mengungkapkan kombinasi kemenangan sejati, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar" (ayat 6). Ia meminta umat percaya untuk merasa cukup dengan makanan dan pakaian mereka (ayat 7,8). "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang" (ayat 10), tetapi kasih dan kepercayaan akan Allah adalah akar dari segala rasa cukup.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengalami sukacita yang datang ketika kesalehan disertai dengan rasa cukup? Jika benar demikian, berarti Anda telah mendapatkan kombinasi hidup berkemenangan yang sejati



Dalih Kemunafikan
Nats : Yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia (Galatia 2:13)
Bacaan : Galatia 2:11-18
Saya punya tetangga yang tidak tahan terhadap orang-orang munafik. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak lagi mengikuti kebaktian di gereja karena melihat begitu banyak orang munafik di sana.
Ia tidak sendiri. Itu adalah salah satu alasan yang paling populer mengapa orang menolak kekristenan. Tetangga saya benar, banyak sekali orang munafik di gereja.
Namun, kemunafikan sebetulnya tidak perlu dijadikan alasan untuk menolak Injil. Kuncinya adalah keabsahan Injil. Apakah kehadiran orang-orang munafik di gereja membatalkan keabsahan pesan Injil?
Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menuduh Petrus munafik (Galatia 2:13). Namun, apakah hal itu menghilangkan keabsahan Injil yang diajarkan Petrus? Sebagian orang bisa berpendapat demikian, mungkin karena mereka mengharapkan orang-orang kristiani hidup sempurna. Namun, yang mungkin mengejutkan mereka adalah bahwa Yesus sendiri menegur dan mengutuk kemunafikan (Matius 6:1-18; 23:13-33). Dia membencinya lebih daripada orang lain.
Hal ini membawa kita pada sebuah titik kunci: Keabsahan kekristenan tidak boleh didasarkan pada orang-orang kristiani yang tidak sempurna, tetapi pada Kristus yang sempurna. Oleh sebab itu, jika seseorang bisa menunjukkan bahwa Yesus munafik, maka barulah ia memang memiliki alasan yang sah. Namun itu mustahil terjadi. Yesus itu tidak berdosa maupun bersalah (Yohanes 8:46; Ibrani 4:15).
Yesus adalah jawaban bagi dalih kemunafikan



Di Mana Akan Berakhir?
Nats : Ketika [Yesus] menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil (1 Petrus 2:23)
Bacaan : 1 Petrus 2:18-25
Angelo, empat tahun, bangun dan mendapati anak anjing pemburunya yang baru telah mengunyah gitar plastiknya. Bocah ini sangat sedih. Ibunya pun gusar sehingga menghardik suaminya, Tony, saat akan ke kantor.
Masih merasa gusar dengan perlakuan istrinya yang tidak menyenangkan tadi, Tony pun memberi perintah-perintah yang dingin dan tidak masuk akal kepada sekretarisnya. Suasana hati sang sekretaris menjadi tidak enak, dan saat istirahat minum kopi ia mendamprat rekannya sesama sekretaris. Di akhir jam kantor, sekretaris yang kedua menghadap atasannya dan siap mengundurkan diri.
Satu setengah jam kemudian, setelah berjuang di tengah kepadatan lalu lintas, sang atasan masuk rumah. Lalu ia menumpahkan kemarahan kepada si kecil Nelson yang meninggalkan sepedanya di pelataran garasi. Nelson masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan menendang anjing Scottish terrier-nya.
Di mana akhir semuanya ini? Tiap orang berpikir bahwa ia mempunyai alasan untuk marah. Padahal, dalam situasi khayalan ini yang dibutuhkan adalah seseorang yang menyerap perlakuan tidak adil itu dan tidak meneruskannya kepada orang lain.
Di sinilah orang kristiani memiliki kesempatan yang unik. Dengan mengetahui kehendak Bapa, memerhatikan teladan Sang Putra, dan bersandar pada pertolongan Roh Kudus, kita dapat menanggung perlakuan buruk serta menunjukkan sikap lebih baik kepada orang lain. Dalam reaksi berantai karena frustrasi dan marah seperti di atas, kita dapat menjadi orang terakhir dan tidak meneruskannya



Menjalankan Iman
Nats : Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan- perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yakobus 2:22)
Bacaan : Roma 2:17-24
Sebagai orang kristiani, kita sering dituntut untuk “tidak hanya bicara”, tetapi “menjalankan ucapan kita”. Nasihat yang sama juga diungkapkan dalam kata-kata berikut: Jangan biarkan tingkah laku Anda bertentangan dengan iman yang Anda percayai. Pada kesempatan lain kita diingatkan untuk memastikan bahwa hidup kita selaras dengan ucapan kita. Jika perilaku kita tidak selaras dengan pengakuan iman kita, maka ketidakselarasan itu akan menghapuskan kesaksian Injil yang kita sampaikan.
Seperti yang kita ketahui, Mahatma Gandhi tidak pernah menjadi orang kristiani. Namun, ia pernah membuat pernyataan bahwa kita, pengikut Yesus, harus memikirkan hidup dengan baik. Ketika diminta untuk menyampaikan pesan pendek, ia menjawab, “Hidupku adalah kesaksianku.”
Kita perlu menjelaskan pesan Injil sejelas mungkin. Namun, penjelasan yang paling jelas sekalipun, tidak akan memenangkan hati yang mendengarnya bagi Tuhan, bila kasih-Nya tidak menyatu dalam hidup kita. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 11:1, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Karena ia menempatkan dirinya sebagai teladan, ia menulis dalam Filipi 4:9, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”
Berdoalah, agar seperti Paulus, kita bisa membuktikan iman kita yang menyelamatkan di hadapan dunia yang sedang menyaksikan hidup kita



Pusat Sejarah
Nats : Simon Petrus menjawab dan berkata, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16)
Bacaan : Matius 16:13-20
Dalam kumpulan arsip biografinya, The Washington Post mengidentifikasikan orang-orang yang terkenal dengan sebuah catatan singkat tentang pekerjaan, seperti "raja home-run" atau "bintang film". Menurut seorang reporter, salah satu dokumen diberi judul, "Yesus Kristus (martir)".
Setiap orang yang telah mempelajari tentang Yesus Kristus membuat beberapa penilaian tentang Dia. Seorang filsuf dan sejarawan dari Perancis bernama Ernest Renan mengatakan demikian, "Seluruh sejarah tidak akan dapat dipahami tanpa Kristus." Dan seorang penulis Amerika, Ralph Waldo Emerson menyimpulkan, "Nama-Nya memang tidak terlalu sering ditulis, akan tetapi tertancap di dalam sejarah dunia."
Kenneth Scott Latourette, mantan ketua departemen keagamaan program pascasarjana di Universitas Yale menulis demikian, "Hidup Yesus yang singkat itu adalah kehidupan yang paling berpengaruh yang pernah ada di dunia ini. Melalui diri-Nya, berjuta-juta orang telah mengalami perubahan dan mulai menjalani hidup seperti yang diteladankan-Nya. Diukur melalui dampak yang mengikuti, kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus merupakan peristiwa-peristiwa yang paling penting dalam sejarah hidup manusia."
Label apa yang Anda sematkan pada diri Yesus Kristus? Jika Anda setuju bahwa Dia adalah sosok seperti yang diakui-Nya, maka jadikanlah Dia, yang merupakan pusat sejarah, tidak saja sebagai pusat kepercayaan Anda, tetapi juga sebagai objek dari kesetiaan dan kasih Anda —HWR



Hari Tergelap
Nats : Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22)
Bacaan : Matius 26:17-30
Untuk merayakan hari raya Paskah, para penyembah Yahudi menyanyikan Mazmur 113-118, yaitu bagian yang disebut "Halel Mesir". Upacara tersebut berkembang menjadi penghargaan terhadap kebebasan dan keindahan hidup yang telah diberikan Allah. Pada akhir upacara itu, para peserta bernyanyi dan memuji Allah untuk menyenangkan Dia dan juga untuk mengekspresikan kegembiraan mereka. Seorang rabi menjelaskan hal tersebut sebagai "sukacita atas kebebasan yang mendalam".
Menjelang akhir acara makan Paskah, bagian kedua dari mazmur Halel ini pun dinyanyikan. Menurut Injil Matius, Yesus dan murid-murid-Nya menyanyikan sebuah kidung pujian dan "pergi ke Bukit Zaitun" setelah mereka merayakan Paskah terakhir mereka bersama-sama (26:30). Mereka saat itu barangkali menyanyikan mazmur berikut ini:
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan
Telah menjadi batu penjuru.
Hal itu terjadi dari pihak Tuhan,
Suatu perbuatan ajaib di mata kita.
Inilah hari yang dijadikan Tuhan,
Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!
(Mazmur 118:22-24).
Apa pun kidung yang mereka nyanyikan, keyakinan Yesus akan kebaikan Bapa surgawi sungguh mengejutkan. Dia sanggup memuji Bapa-Nya, sekalipun Dia mengetahui bahwa sebentar lagi Dia akan mengalami hari yang paling gelap sepanjang perjalanan hidup-Nya



Tak Tersembunyi
Nats : Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan (Markus 7:24)
Bacaan : Markus 7:24-30
Minyak wangi dari bunga mawar merupakan salah satu produk negara Bulgaria yang paling berharga dan dibebani pajak ekspor yang tinggi. Suatu kali seorang turis yang tidak bersedia membayar pajak, menyembunyikan dua botol kecil minyak berharga ini di dalam kopernya. Akan tetapi, ada sedikit parfum yang telah tumpah di kopernya. Setibanya di stasiun kereta api, aroma parfum itu telah menyebar dari dalam koper, sehingga memberitakan harta karun yang tersembunyi tersebut. Pihak berwenang segera mengetahui apa yang telah dilakukan sang pria dan menyita suvenir mahal tersebut.
Hal yang sama berlaku untuk Tuhan Yesus. Dia pun tidak dapat dirahasiakan. Orang banyak selalu mengerumuni-Nya. Mereka ingin mendengar perkataan hikmat, menerima pengampunan-Nya, serta meminta belas kasihan-Nya.
Setelah Dia naik ke surga kepada Bapa-Nya, pengaruh Yesus berlanjut di dalam kehidupan murid-murid-Nya. Orang banyak sadar bahwa mereka bersama Yesus (Kisah Para Rasul 4:13). Sikap dan tingkah laku mereka menandakan bahwa mereka adalah pengikut-Nya yang sejati.
Apakah Anda benar-benar hidup bagi Yesus? Apakah kasih Kristus begitu nyata di dalam hidup Anda sehingga orang-orang yang mengenal Anda dapat menyadari bahwa Anda adalah pengikut Dia yang "tidak dapat dirahasiakan"? (Markus 7:24). Jika memang demikian halnya, maka dunia akan dengan mudah melihat bahwa Anda berada di pihak Allah. Pengaruh Anda tidak dapat dirahasiakan



Kita Mengenal Allah?
Nats : Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)
Bacaan : Yohanes 17:1-5
Penulis Amerika, Mark Twain, terkenal karena kecerdasan dan pesonanya. Dalam suatu perjalanan ke Eropa, ia diundang untuk makan malam dengan seorang kepala negara bagian. Ketika anak perempuannya mengetahui undangan ini, ia berkata, Ayah mengenal semua orang penting yang harus dikenal. Tetapi ayah tidak mengenal Allah. Sedihnya, kata-kata ini benar karena Mark Twain adalah orang tak percaya yang skeptis.
Komentar anak perempuannya itu seharusnya menimbulkan pertanyaan terhadap diri kita sendiri, yaitu apakah kita mengenal Allah. Kita mungkin diberkati dengan persahabatan yang memperkaya hidup, berteman dengan begitu banyak orang penting, namun apakah kita mengenal Allah? Dan apakah pengetahuan kita akan Dia lebih dari sekadar informasi dari orang lain atau spekulasi, hal-hal yang mungkin dapat kita baca di buku?
Yesus ingin agar para murid-Nya memiliki pengenalan yang intim tentang Allah. Dia berdoa, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3). Pengenalan ini benar-benar bersifat pribadi, dan hanya bisa didapatkan melalui persahabatan yang dalam dan lama. Sebenarnya, pengenalan yang dimaksud dalam bacaan ini dan di tempat lain dalam Kitab Suci digambarkan seperti keintiman suami istri saat mereka menjadi satu (Kejadian 4:1).
Kita dapat memiliki pengenalan itu jika kita meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan Allah, membaca firman-Nya, dan membagikan kasih-Nya kepada dunia



Mahabesar dan Mahabaik
Nats : Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa .... Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan (Nahum 1:3,7)
Bacaan : Nahum 1:1-8
Ketika kami masih kecil, saya dan kakak laki-laki saya selalu mengucapkan doa seperti berikut ini sebelum makan malam: Allah mahabesar, mahabaik. Marilah kita mengucapkan syukur kepada-Nya atas makanan ini. Selama bertahun-tahun saya mengucapkan doa ini tiada henti-hentinya karena saya tidak tahu akan seperti apa hidup saya nantinya jika hal ini tidak benar yaitu, jika Allah sebenarnya tidak mahakuasa dan tidak baik.
Tanpa kebesaran-Nya yang menjaga keteraturan di alam semesta, semua galaksi akan menjadi tempat sampah bintang-bintang dan planet-planet yang bertabrakan. Dan tanpa kebaikan-Nya yang berkata cukup untuk setiap penguasa jahat, maka bumi akan seperti taman bermain yang dikuasai oleh penggertak besar.
Doa masa kecil yang sederhana itu memuji dua sifat dasar Allah: transenden dan imanen. Transenden berarti bahwa kebesaran-Nya melampaui pemahaman kita. Imanen menggambarkan kedekatan-Nya kepada kita. Kebesaran Allah yang mahakuasa membuat kita tersungkur dalam kerendahan hati. Akan tetapi, kebaikan Allah mengangkat kita kembali dalam puji-pujian kemenangan dan ucapan yang penuh syukur. Dia yang mengatasi segala sesuatu merendahkan diri-Nya dan menjadi bagian dari kita (Mazmur 135:5, Filipi 2:8).
Puji Tuhan karena Dia mempergunakan kebesaran-Nya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan kita. Selain itu, Dia mempergunakan kebaikan-Nya bukan sebagai alasan untuk menolak kita, melainkan untuk meraih kita



Suami yang Baik
Nats : Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (Efesus 5:25)
Bacaan : Efesus 5:25-33
Pada masa-masa awal pernikahan mereka, seorang pengkhotbah terkenal bernama W.E. Sangster (19001960) berkata kepada istrinya, Aku tidak dapat menjadi suami sekaligus menjadi pendeta yang baik. Aku ingin menjadi seorang pendeta yang baik.
Sangster banyak diminta untuk menjadi pengkhotbah dan pengajar. Ia pun sering bepergian meninggalkan keluarganya untuk menjadi pembicara. Ketika berada di rumah, ia jarang mengajak istrinya makan malam atau menikmati hiburan malam. Ia pun tidak membantu pekerjaan di rumah. Putranya memerhatikan kegagalan ini, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada ayahnya, ia menulis, Jika suami yang baik adalah pria yang mengasihi istrinya secara mutlak ... dan mengabdikan diri bagi sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua, maka kebaikan ayah saya sebagai seorang pendeta sebenarnya tidak lebih baik daripada kebaikannya sebagai seorang suami.
Sangster memang setia terhadap istrinya. Akan tetapi, saya percaya ia bisa menjadi suami sekaligus pendeta yang baik seandainya ia lebih memerhatikan kebutuhan sang istri daripada jadwalnya yang padat.
Banyak orang yang memangku jabatan penting memiliki banyak tuntutan, yang terkadang tidak terhindarkan. Tetapi apabila seorang suami kristiani sungguh-sungguh memerhatikan perintah Paulus untuk mengasihi istrinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat, tentunya ia akan menemukan jalan untuk memberikan diri bagi istrinya, bahkan untuk perkara-perkara yang kecil. Begitulah cara Kristus, teladan kita, mengasihi jemaat-Nya



Berjalan Dalam Debu-Nya
Nats : Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya ... lalu mengikuti Dia (Markus 1:20)
Bacaan : Markus 1:16-20
Pada abad pertama, seorang Yahudi yang ingin menjadi murid seorang rabi (guru) harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk mengikuti sang rabi. Mereka akan menjalani hidup bersama selama 24 jam setiap hari. Mereka akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengajar dan belajar, serta bekerja. Mereka berdiskusi dan menghafalkan Kitab Suci serta menerapkannya dalam hidup mereka.
Panggilan menjadi seorang murid, seperti yang dijelaskan dalam berbagai tulisan Yahudi pada zaman mula-mula mengenai etika dasar, adalah menyelubungi dirinya dalam debu kaki [sang rabi], meneguk setiap perkataannya. Ia mengikuti rabinya dengan begitu dekat sehingga ia akan berjalan dalam debunya. Dengan melakukan hal itu, ia akan menyerupai sang rabi, gurunya.
Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes mengetahui bahwa ini merupakan tipe hubungan yang diinginkan oleh Yesus ketika Dia memanggil mereka (Markus 1:16-20). Jadi, mereka pun segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Dia (ayat 20). Selama rentang waktu tiga tahun mereka bergaul karib dengan-Nya. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan berbagai mukjizat-Nya, mempelajari berbagai prinsip-Nya, dan berjalan dalam debu-Nya.
Sebagai pengikut Yesus yang hidup pada zaman ini, kita pun dapat berjalan dalam debu-Nya. Dengan meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman-Nya serta menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, kita akan menjadi seperti rabi kitaYesus



Berjuanglah!
Nats : Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal (1Timotius 6:12)
Bacaan : 1Timotius 6:6-19
Setelah hidup lebih dari 80 tahun, saya tahu bahwa segala pernyataan yang menawarkan cara melangsingkan tubuh tanpa usaha adalah omong kosong belaka. Demikian pula dengan segala judul khotbah yang menjanjikan kepada kita cara mudah untuk menjadi serupa dengan Kristus.
Penulis Brennan Manning bercerita tentang seorang pecandu alkohol yang meminta pendetanya untuk mendoakannya agar ia terlepas dari masalah kecanduan. Ia mengira ini adalah cara yang cepat dan mudah untuk mengatasi ketergantungannya. Sang pendeta, yang mengetahui motivasinya untuk minta didoakan menjawab, Saya punya ide yang lebih baik. Pergilah ke Alcoholics Anonymous [grup penolong pecandu alkohol]. Ia menyarankan orang itu untuk mengikuti program yang ada dengan tekun serta membaca Alkitab setiap hari. Dengan kata lain, kata sang pendeta mengakhiri ucap-annya, berjuanglah.
Berjuanglah. Itulah yang dikatakan oleh Paulus kepada Timotius, ketika ia memberi tahu betapa ia harus menata hidupnya supaya dapat mengajar orang percaya bagaimana mereka harus hidup. Coba Anda perhatikan kata kerjanya, Kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertadingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal (1Timotius 6:11,12).
Tidak ada cara yang mudah untuk membebaskan diri dari kecanduan alkohol, demikian pula tidak ada jalan tanpa usaha untuk menjadi serupa dengan Kristus. Apabila kita sungguh-sungguh ingin menjadi serupa dengan Yesus, kita pun harus terus berjuang



Perintah Tuhan Kita
Nats : Yesus berkata, ... Mari, ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia (Markus 1:17)
Bacaan : Yohanes 21:14-22
Di Pantai Galilea, Yesus suatu kali mengajukan pertanyaan kepada Simon Petrus untuk menyelidik hatinya, Apakah engkau mengasihi Aku? (Yohanes 21:15-17). Kemudian Tuhan yang telah bangkit itu memberi tahu kepada murid-Nya, Petrus, bahwa kelak ia akan mati sebagai seorang martir. Mendengar pernyataan tersebut, Petrus pun menerimanya tanpa mengeluh.
Akan tetapi, kemudian Petrus mempertanyakan masa depan Rasul Yohanes (ayat 21). Kita hanya dapat menebak-nebak apa motivasi dari pertanyaannya itu. Apakah pertanyaan itu merupakan tanda perhatian seorang saudara? Apakah hal itu semata-mata hanyalah keingintahuan duniawi? Apakah Petrus kesal karena ia mengira Yohanes tidak mati sebagai martir?
Apa pun motivasi Petrus, Yesus menjawabnya dengan balik melontarkan pernyataan yang tidak hanya ditujukan kepada Petrus, tetapi juga ditujukan kepada setiap pengikut-Nya, Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku (ayat 22). Dengan pernyataan tersebut, Yesus sebenarnya hendak mengatakan, Jangan mengkhawatirkan hidup orang lain. Tugasmu adalah tetap mengikuti Aku dengan setia.
Kita begitu mudah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan ditentukan oleh perilaku dan pengalaman orang lain. Akan tetapi, kita tidak boleh mengusik rencana Allah bagi orang lain. Meskipun ada suara-suara sumbang di sekitar kita, kita harus tetap mendengarkan perintah yang jelas dari Sang Juru Selamat, Tetapi engkau: ikutlah Aku



Siapakah Allah Itu?
Nats : Firman Allah kepada Musa: “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14)
Bacaan : Keluaran 3:13-22
Tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, Musa bertanya kepada Allah siapakah diri-Nya dan ia menerima jawaban yang aneh. Allah berfirman, “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: ‘Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.’ … Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya” (Keluaran 3:14,15).
Sudah lama saya bertanya-tanya mengapa Allah menyebut diri-Nya dengan nama demikian, tetapi perlahan-lahan saya memahami maksudnya. Sebuah kalimat hanya memerlukan dua hal supaya lengkap, yaitu sebuah subjek dan sebuah kata kerja. Jadi, ketika Allah mengatakan nama-Nya “Akulah Aku,” hal ini mengandung konsep bahwa Dia lengkap dalam diri-Nya. Dia adalah subjek sekaligus kata kerja. Dia dapat memenuhi segala yang kita butuhkan.
Jawaban Allah yang mendasar terhadap pertanyaan Musa, “Siapakah Engkau?” akhirnya menjadi sosok yang nyata dalam diri Yesus. Yesus meninggalkan surga untuk menunjukkan kepada kita apa artinya menyandang nama Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Dia juga mengatakan, “Akulah roti hidup” (6:48), “terang dunia” (8:12), “gembala yang baik” (10:11), dan “kebangkitan dan hidup” (11:25). Dalam Wahyu, Yesus menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (22:13). Dan Dia mengatakan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58).
Jika Anda mempertanyakan siapakah Allah itu, luangkan waktu sejenak untuk mengenal Yesus lewat halaman-halaman firman-Nya



Saat Berbelas Kasih
Nats : Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34)
Bacaan : Lukas 23:26-34
Pada tahun 2002 saya berada di Jakarta, Indonesia. Saat itu saya menjadi pengajar selama dua malam dalam suatu konferensi Alkitab. Malam pertama, saya berangkat lebih awal ke gereja yang menjadi penyelenggara acara, dan sang pendeta mengajak saya untuk berkeliling gedung. Keindahan gereja itu mengesankan saya.
Kemudian sang pendeta mengajak saya ke ruangan yang besar di tempat yang lebih rendah. Di bagian depan terdapat mimbar dan meja Perjamuan Kudus. Di belakangnya tampaklah dinding beton sederhana dengan salib kayu menempel di dinding. Di bawahnya tertera tulisan berbahasa Indonesia. Saya menanyakan apa bunyi tulisan itu, dan saya terkejut saat ia mengutip perkataan Kristus yang dilontarkan-Nya dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
Saya menanyakan apakah ada alasan khusus sehingga tulisan itu tertulis di situ. Ia lalu menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya di kota ini pernah terjadi kerusuhan hebat, dan 21 gereja dibakar habis dalam satu hari. Dinding beton itu merupakan satu-satunya yang tersisa -- dari gereja pertama yang dibakar.
Dinding dan ayat tersebut mengingatkan mereka pada belas kasih yang ditunjukkan Kristus di atas kayu salib, dan hal itu menjadi pesan gereja bagi kota mereka. Balas dendam dan kepahitan bukanlah respons yang menyembuhkan kebencian dan kemarahan dunia yang terhilang ini. Akan tetapi, belas kasih Kristus dapat menjadi respons yang memulihkan, seperti halnya yang terjadi 2.000 tahun silam



Berbuat Baik
Nats : Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat (1Petrus 3:17)
Bacaan : 1Petrus 3:8-17
Yusuf (bukan nama sebenarnya) adalah contoh perwira militer yang terpercaya. Ia naik pangkat di angkatan bersenjata negaranya sampai ke tingkat kolonel dalam tugas khusus. Dengan pangkat ini datanglah kesempatan, yang baik maupun buruk.
Ketika Yusuf ditempatkan di sebuah wilayah yang diguncangkan oleh perdagangan narkoba, ia berniat menegakkan keadilan di wilayah yang bermasalah ini. Ia dan pasukannya mulai menangkap para penjahat untuk melindungi masyarakat. Beberapa atasannya yang korup dan mendapat suap dari para bandar narkoba, memerintahkannya untuk menutup mata agar mereka dapat mengedarkan obat-obat terlarang itu. Berulang kali ia menolak melakukannya sampai akhirnya ia ditahan dan di penjara selama 8 tahun -- karena melakukan kebaikan.
Sayangnya, kita hidup di dunia di mana kadang kala berbuat baik justru mengakibatkan penderitaan. Hal ini nyata bagi Yusuf; upah atas jasanya melayani rakyat adalah dipenjarakan dengan tidak adil.
Rasul Petrus, yang juga dipenjara karena melakukan kebaikan, memahami sakit hati seperti itu. Ia memberi kita cara pandang ini: "Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat" (1Petrus 3:17).
Ketika Yusuf menceritakan apa yang diajarkan Allah kepadanya di penjara, saya tahu keadilan Allah tidak dapat dihalangi oleh kejahatan manusia. Berbuat baik tetap menyenangkan dalam pandangan-Nya -- bahkan ketika kita diperlakukan semena-mena oleh dunia karena melakukan kebaikan



Terlambat!
Nats : Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya (Matius 25:13)
Bacaan : Matius 25:1-13
Suatu kali, Washington Post mengingatkan tentang insiden tragis yang dialami kapal Titanic. Di ruang kendali, petugas sedang sibuk menjalankan tugasnya. Telepon berdering. Satu menit berlalu. Pada menit kedua, si petugas tak mau diganggu karena terlalu sibuk. Menit ketiga pun berlalu sangat cepat. Setelah si petugas selesai dengan tugasnya, barulah ia mengangkat telepon yang pesannya berbunyi, "Ini tempat pengintai pada haluan kapal. Gunung es persis di depan! Putar haluan!" Dengan cepat si petugas ke ruang kendali, tetapi terlambat! "Kebanggaan segala lautan" itu menabrak gunung es dan menewaskan 1.600 jiwa.
Andai si petugas menanggapi telepon itu, mungkin film Titanic tak perlu dibuat. Tiga kesempatan dilewatkan dan ketika hendak menanggapi panggilan itu, ia sudah terlambat! Hal yang sama kerap dilakukan banyak anak Tuhan saat mendengar suaraNya. Kebanyakan dari kita sebenarnya sudah mendengar jelas apa yang menjadi peringatan dan kehendak Tuhan, tetapi kerap kali kita meremehkan semuanya itu.
Bila kesempatan itu ternyata merupakan yang terakhir, maka jika kita tidak serius menanggapinya, bisa-bisa kita pun akan "tenggelam". Firman Allah mengingatkan kita agar selalu berjaga-jaga. Jika tidak demikian, bisa-bisa kita mengabaikan kesempatan yang Tuhan berikan -- kesempatan untuk bertobat, untuk melakukan kehendakNya, untuk melayani-Nya, atau yang lain. Perbedaan nyata antara lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana dalam bacaan kita adalah bahwa yang bijaksana selalu berjaga-jaga (ayat 4), sementara yang bodoh terlambat menjaga minyaknya (ayat 3,10). Jangan terlambat!



Bila Semua Mengecewakan
Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3:18)
Bacaan : Habakuk 3:17-19
Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana sehingga mengganggu kenyamanan dan kestabilan, bagaimana kita menghadapinya? Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Payahnya, Tuhan seolah-olah membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3). Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain. Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam nada ratapan (ayat 3).
Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana, kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku."
Apakah dimensi iman yang sedewasa ini menjadi milik kita?



Saat Bimbang
Nats : Ketika hatiku merasa pahit ... aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu (Mazmur 73:21-23)
Bacaan : Mazmur 73:1-5, 21-26
Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak menjawab. Aku sendirian .... Di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan dan kegelapan." Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan terkenal seperti dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan, meragukan imannya? Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan dan sesama?
Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan kehadiran Tuhan. "Seperti hewan aku di dekat-Mu," katanya. Anjing peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya. Seperti itulah kondisi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat hidup enak dan jaya. Ia yang hidup bersih justru "nyaris tergelincir". Namun ia bertekad, "aku tetap didekat-Mu." Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang. Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia mengerti maksud-Nya.
Saat hidup tampak tidak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu. Dalam kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih untuk tetap ada di jalan-Nya, sekalipun
ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa



Gereja Bukan Gedungnya
Nats : Dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan" (Filipi 2:11)
Bacaan : Matius 16:13-20
Pada masa kini, ada kesan kuat bahwa gereja seolah-olah hanya tempat pertunjukan dan hiburan. "Pengunjung" datang dan pergi sesukanya demi mencari acara yang memuaskan selera. Bila gedung gereja dipenuhi oleh hadirin yang terpikat, entah oleh apa, itu dinilai sukses. Gereja hanya dipahami sebagai sebuah gedung, tempat, acara, dan pertunjukan.
Atas perkenan Allah, Petrus mengaku bahwa Yesus-lah Anak Allah; dan Tuhan mendirikan Gereja-Nya di atas dasar pengakuan iman itu. Keberadaan gereja ditentukan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejarah gereja membuktikan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, pengakuan itu bertahan walaupun diterjang pelbagai tantangan, siksaan, penganiayaan, dan pembantaian. Selama kaum beriman yang tinggal masih setia pada pengakuan imannya, gereja-dalam arti sesungguhnya-tak akan pernah binasa, meskipun para tokohnya dibunuh, gedung-gedungnya dibakar, kegiatan-kegiatannya dilarang, ruang gerak dan izin pendiriannya dibatasi. Sebaliknya, gereja justru makin berkembang.
Keberadaan gereja lebih ditentukan oleh faktor orang-orang yang hidup di atas dasar pengakuan iman, yaitu makna Yesus bagi jemaat. Bukan dari megahnya gedung, rapinya organisasi, bervariasinya kegiatan, dan kuatnya keuangan. Semua itu memang perlu, tetapi bukan yang utama. Kekuatan gereja bertumpu pada karya Roh Kudus di dalam dan melalui orang-orang yang setia pada imannya. Pada akhirnya, orang-orang tidak hanya mencari gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga demi melaksanakan hidup bergereja; terlibat aktif dalam setiap pelayanan gereja