Renungan Hidup Kristen (RHK), 05 April 2025
Nats : RATAPAN 1 : 20
“Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak; di luar keturunanku dibinasakan oleh pedang, di dalam rumah oleh penyakit sampar”
RATAPAN KETAKUTAN DAN KEGELISAHAN SAMPAIKAN KEPADA TUHAN
Kitab Ratapan dimana penulis kitab ini juga adalah Yeremia mencatat tentang penderitaan mendalam yang dirasakan Nabi Yeremia atas kebebalan bangsa Yehuda yang menolak untuk menaati Allah. Yeremia, yang sering disebut sebagai “nabi peratap”, telah menyaksikan kehancuran Yerusalem dan melihat orang-orang sebangsanya itu dibawa ke pembuangan. Ia berkelana di tengah jalan-jalan kota, dengan perasaan yang diliputi oleh kedukaan (Ratapan 1 : 1 – 5) yang mengungkapkan kesedihan yang amat sangat dari Yeremia dan umat TUHAN oleh sebab mereka terbuang ke Babel dan tembok-tembok Yerusalem, istana serta bait suci telah dirubuhkan. Mereka mengalami penderitaan secara emosional karena mereka seolah seperti bangsa yang sudah tidak memiliki identitas lagi, betapa memilukannya kondisi Yerusalem yang sengsara karena dosa-dosa mereka. Yerusalem amat menderita karena keberdosaan umat Tuhan. Kota itu seperti janda. Yerusalem kota yang dahulu dipandang seperti ratu ? kini menjadi budak jajahan. Bukan hanya itu: Kini tidak ada lagi penduduk yang tinggal di sana karena yang ada hanyalah keresahan. Dahulu, kota itu ramai karena orang-orang berbondong-bondong ke sana untuk beribadah. Kini, Yerusalem senyap. Dahulu, kota itu dipandang mulia, tetapi kini, kota itu hancur karena segala yang berharga dirampas oleh para lawannya. Dahulu, kota itu berlimpah dengan makanan. Sekarang, penduduknya kelaparan. Betapa perih, pedih, dan merananya kondisi kota itu dalam pandangan sang nabi.
Yeremia melukiskan adanya kesunyian yang mencekam karena suasana duka. Kejayaan negeri yang dahulunya dikenal dan dihormati bangsa-bangsa hanya tinggal puing-puing penderitaan. Kelaparan dan kematian, Kota Yerusalem dan Bait Allah hancur, raja-raja dan para pangeran dibunuh dan ditawan, serta umat mengalami penghinaan dari para musuhnya. Bangsa-bangsa yang tadinya berteman dengan mereka sekarang acuh tak acuh, bahkan mencibir nasib mereka. Semuanya ini terjadi karena dosa yang telah dilakukan oleh bangsa Yehuda (ayat 8). Mereka memberontak terhadap Tuhan dan kebenaran-Nya dan ara pemimpin mereka menjalankan pemerintahan secara tidak bertanggung jawab. Dalam ratapannya, Yeremia sadar atas segala keluhannya. Ia berpaling kepada Tuhan dan menyatakan pengakuan dosanya di hadapan Tuhan (ayat 18). Yeremia mengakui kebesaran dan kuasa Tuhan (ayat 19). Ia memohon agar Tuhan membawa umat kembali kepada-Nya untuk diperbarui. Ia juga memohon agar hukuman yang Tuhan telah lakukan kepada mereka juga menimpa bangsa Babel.
Dalam ratapan Yeremia dengan situasi demikian, Yeremia tetap menyampaikan apa yang ada dalam hatinya hanya kepada Tuhan. Yeremia sadar bahwa hanya TUHAN yang bisa mengubahkan keadaan mereka yang sudah terpuruk it dengan percaya dan
memohon ”Ya, hanya TUHAN yang bisa mengubahkan keadaan kita, jadi mengadulah kepada-Nya”. Dari sinilah kita harus memahami bahwa TUHAN mengizinkan kita berkeluh kesah kepada-Nya. TUHAN bersedia mendengarkan seluruh tumpahan hati yang mungkin sudah penuh di dada. Bahkan ”TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34 : 19) dan kita belajar bahwa kejayaan itu tidak kekal. Ada saatnya semuanya hancur dan yang tersisa hanyalah kepedihan yang mendalam. Hanya Tuhanlah yang kekal.
Memang ada berbagai alasan yang bisa saja membuat kita takut dan cemas. Ada yang mungkin cemas dan takut karena kesehatan, keperluan makan-minum, pendidikan, pendidikan, usia, dan lain sebagainya. Setelah kita mengadu pada TUHAN, maka kita akan merasakan kelegaan dan damai TUHAN mengalir atas hidup kita. Saat itulah TUHAN memberi kekuatan dan hikmat-Nya untuk melanjutkan perjalanan iman kita. Mungkin masalah dan tantangan kita masih tetap ada, namun kita sudah menjadi jauh lebih kuat untuk menanggung masalah tersebut. Bersama dengan TUHAN kita kuat menganggung semuanya.
Jadi sebagai manusia, kita mungkin cemas dan takut akan berbagai hal, tetapi sebagai orang yang beriman, kita harus yakin bahwa kekuatan Tuhan melebihi kecemasan dan ketakutan kita. Ketakutan berlebihan adalah bagian dari cobaan iblis. Iblis kadang mencobai kita untuk tetap tinggal dalam zona tertentu, terutama zona dosa dan takut untuk berubah. Kita harus berani berubah. Kita meminta Roh Kudus untuk membantu kita, dan memberanikan kita untuk tetap bergerak maju untuk berkembang menjadi lebih baik. Ketakutan berlebihan membuat kita hanya tinggal di zona yang tetap, tidak bergerak, dan tidak pernah akan maju. Perubahan hidup, terutama hidup menjadi lebih baik akan terjadi bila kita berani untuk bergerak maju. Jangan biarkan kecemasan dan ketakutan mengontrol hidup kita. Itulah ratapan dari dalam hati kita yang mengungkapkan kepedihan hati ini, bukan ratapan keputusasaan dengan menyalahkan Tuhan, tetapi menyerahkan semuanya dalam tangan Tuhan yang maha adil. Mencurahkan isi hati ini kepada Tuhan, karena kita mengharapkan kelegaan. Ratapan kita naikan karena kita sadar bahwa kita perlu pertolongan Tuhan, kita percaya ada kasih Allah yang mampu untuk memulihkan kehidupan kita. Hidup harus tetap berlanjut, dan jangan takut untuk maju. Karena itu, marilah kita letakkan hidup kita dalam tangan Tuhan dan bertekad tidak mengandalkan manusia, harta, kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan yang kita miliki. Hiduplah senantiasa dalam persekutuan yang intim dengan-Nya dan berani membuka diri untuk dikoreksi oleh Tuhan. Tuhan senantiasa menyertai kita.
TUHAN MEMBERKATI Bapak dan Ibu
Teriring Salam & Doa :
Pdt. Martahi Oloan Siahaan, STh, MM
Komentar
Posting Komentar